PELUANG BISNIS: Nikmati Cuan dari Sajian Modern Sate Ponorogo

Diakui atau tidak, tren kuliner terus bergerak dinamis. Apalagi, perubahan zaman yang makin cepat tentunya membuat selera pasar mengalami perubahan. Lalu bagaimana dengan kuliner tadisional yang harus berperang melawan perubahan selera yang sangat cepat ini?
Amanda Kusumawardhani | 13 Februari 2018 08:44 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Diakui atau tidak, tren kuliner terus bergerak dinamis. Apalagi, perubahan zaman yang makin cepat tentunya membuat selera pasar mengalami perubahan. Lalu bagaimana dengan kuliner tadisional yang harus berperang melawan perubahan selera yang sangat cepat ini?

Pemikiran semacam itu sebenarnya sudah dipikirkan oleh Brien Luruh Windrian yang sudah menggeluti bisnis sate ayam khas Ponorogo sejak 2015. Sate ayam merupakan kuliner tradisional khas Ponorogo yang selalu menjadi primadona kota tersebut.

Khusus untuk rumah makannya, Warung Sate Lego yang beralamat di Jl. Ahmad Dahlan No.53 Timur Pasar Songgolangit Ponorogo memang baru didirikan sejak dua tahun terakhir.

Sebagai sajian khas, sate ayam Ponorogo selalu menjadi buruan para wisatawan atau orang asli Ponorogo yang berkunjung ke kota tersebut. Yang berbeda dengan sate kebanyakan, sate ayam Ponorogo dipotong secara memanjang dan dilengkapi dengan bumbu pecel sebagai kuahnya.

“Yang berbeda, Warung Sate Lego ini mengemas sate ayam Ponorogo lebih modern. Jika untuk makan di tempat, sate ayam disajikan dengan hot plate supaya sate tetap terjaga kehangatannya,” kata Brien.

Jika konsumen ingin membelinya sebagai oleh-oleh, sate ayam tersebut dibungkus dengan alumunium foil dan divakum supaya tahan lama. Berkat riset yang dilakukan selama 2bulan--3 bulan, sate ayam yang dikemas di alumunium foil dan divakum tersebut bisa tahan hingga tiga hari di suhu luar ruangan.

Selain itu, dia menyebutkan sate dengan kemasan tersebut juga bisa tahan sampai tujuh hari jika disimpan di kulkas, bahkan bisa tahan 1 bulan ketika disimpan di freezer. Untuk mempercantik kemasan Sate Lego, dia juga menyiapkan tas dan kotak khusus yang bisa dibawa oleh konsumen ketika melakukan perjalanan jauh.

“Biasanya, sate ayam itu dibungkus menggunakan besek ketika ingin dibawa ke luar kota. Cara membungkusnya juga hanya ditumpuk dalam jumlah banyak di besek sehingga menyulitkan bagi konsumen yang ingin membawanya ketika naik pesawat,” tukasnya.

Dengan menggunakan kemasan alumunium foil dan divakum, konsumen tidak akan kesulitan lagi membawa sate ayam Ponorogo ke luar kota bahkan ke luar negeri. Hingga saat ini, dia menyebutkan produk Sate Ayam Lego sudah menjangkau Jakarta dan sekitarnya, serta luar negeri yakni ke Hong Kong.

Adapun, Sate Ayam Lego ini dibanedrol seharga Rp30.000 tiap 10 tusuknya. Dalam satu kemasan, setidaknya bisa memuat maksimal 25 tusuk sate. Dalam satu kotak bisa memuat hingga 50 tusuk sate yang dikemas menggunakan dua alumunium foil yang divakum.

Dalam sehari, dia bisa memproduksi sekitar 1.000 tusuk sate ayam. Jumlah itu bisa meningkat ketika liburan sekolah, lebaran, dan liburan panjang lainnya.

Sejauh ini, dia mengungkapkan prospek bisnis sate yang dikelolanya cerah karena nama sate Ponorogo sendiri sudah dikenal sebagai makanan khas yang harus dibeli ketika mengunjungi Ponorogo.

“Untuk makan di tempat, kami juga menyajikan berbagai menu selain sate ayam untuk menjangkau pasar keluarga. Lalu untuk online, kami juga memasarkannya melalui media sosial yakni Instagram, Facebook, dan websitenya di sateponorogo.com,” tambahnya.

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top