Dua Warga Bangkalan Dinilai Layak Terima Kalpataru

Kolaborasi antara Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) dengan masyarakat dalam pelestarian lingkungan berbasis peningkatan ekonomi masyarakat panen apresiasi.
Wike Dita Herlinda | 19 November 2017 19:13 WIB
Ilustrasi: Perahu melintas di kawasan konservasi mangrove di Desa Tolongano, Banawa Selatan, kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (11/7). - ANTARA/Fiqman Sunandar

Bisnis.com, JAKARTA - Kolaborasi antara Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) dengan masyarakat dalam pelestarian lingkungan berbasis peningkatan ekonomi masyarakat panen apresiasi.

Apresiasi disampaikan M.R. Karliansyah, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Apa yang dilakukan PHE WMO luar biasa. Program pendukung di daerah operasinya bukan hanya membuat lingkungan hidup menjadi lebih bagus, tetapi manfaat ekonominya juga dirasakan masyarakat. Lebih dari itu juga muncul dukungan dari masyarakat,” ungkap Karliansyah dalam siaran pers, Minggu (19/11/2017).

Menurutnya, dua tokoh lokal yang mengelola TPM dan HIPPAM yakni M Syahril dan Muhammad Tumar layak diusulkan untuk menjadi penerima Kalpataru.

Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Kalpataru berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti pohon kehidupan (Kalpavriksha).

“Perjungan Pak Syahril mengelola Taman Pendidikan Mangrove di Labuhan dan Pak Tumar mengelola HIPPAM Sumber Barokah layak kita beri apresiasi. Tolong Pemda Bangkalan atau PHE WMO mengusulkan pada Kementerian Lingkungan Hidup agar mereka bisa dicalonkan sebagai penerima Kalpataru,” katanya.

Karliansyah menilai, Syahril yang tahun lalu dinobatkan menjadi Lokal Hero oleh Pertamina mempunyai kontribusi sangat besar dalam memulihkan ekosistem sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat di Labuhan.

“TPM Labuhan ini bukan saja bagus untuk lingkungan, misalnya menahan abrasi, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja dan menjadi objek wisata andalan Kabupaten Bangkalan. Nilainya lebih besar lagi karena ini ada di pesisir Utara Pulau Madura,” jelas Karliansyah didampingi Direktur Operasi Pertamina Hulu Energi (PHE) Beni J. Ibradi dan General Manager PHE WMO Kuncoro Kukuh.

Dalam kunjungannya ke Desa Bandang Daja Kecamata Tanjungbumi, Karliansyah sempat bertemu dengan beberapa mantan TKI yang kini memilih mengembangkan Taman Pendidikan Mangrove Labuhan.

Karliansyah juga bertemu dengan ibu-ibu anggota Kelompok Tani Cemara Laut yang mengembangkan bisnis katering untuk pelajar dan mahasiswa yang melakukan penelitian atau sekadar berkemah di TPM Labuhan.

“Sudah ada 65 warga yang mengelola TPM Labuhan. Manfaat ekonominya sangat besar karena berhasil membuka lapangan kerja. Yang tadinya jadi TKI di luar negeri, kini balik mengelola desa mereka,” katanya.

Pada bagian lain, Karliansyah juga memuji kebijakan warga pengelola TPM Labuhan yang melarang pelajar berkunjung pada jam sekolah kecuali ada surat tugas dari sekolah atau diantar guru.

Karliansyah juga sepakat dengan kebijakan warga yang hanya membuka TPM Labuhan hingga pukul 17.00.

“Karena namanya Taman Pendidikan Mangrove, saya sangat sepakat jika aspek pendidikan menjadi prioritas utama. Larangan pelajar berjunjung pada jam sekolah sangat tepat. Demikian juga dengan keputusan jam operasional hingga pukul 17.00,” katanya.

Sementara dalam kunjungan di HIPPAM Sumber Barokah di Desa Bandang Daja, Kecamatan Tanjungbumi, Karliansyah memberi apresiasi atas keberhasilan kelompok itu memasok kebutuhan air bersih untuk 400 KK.

“Banyak yang mencoba memenuhi kebutuhan air bersih secara berkelompok. Tapi biasanya hanya untuk 10 KK. Ini untuk 400 KK. Kalau satu KK ada 5 jiwa, maka ada 2.000 jiwa yang kebutuhan air bersihnya terpenuhi. Ini luar biasa,” tegasnya.

Menurut Karliansyah, apa yang dilakukan Muhammad Tumar dan warga pengurus HIPPAM Sumber Barokah dan M Syaril dan warga pengelolan TPM Labuhan layak mendapat apresiasi pemerintah.

“Pertamina dalam hal ini PHE WMO tahun lalu sudah mendapat apresiasi dari pemerintah berupa Proper Emas. Kini selain PHE WMO, saya usulkan juga agar tokoh lokal seperti Pak Syahril dan Pak Tumar juga juga layak mendapat apresiasi dari pemerintah. Mereka layak diusulkan menjadi penerima Penghargaan Kalpataru,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalpataru

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top