Petani Kelapa Perlu Budi Daya Varietas Unggul

Balai Penelitian Tanaman Palma Provinsi Sulawesi Utara dalam Lokakarya Internasional Pengembangan Kelapa di Manado mengimbau petani kelapa untuk menanam varitas unggul untuk meningkatkan pendapatan.
Newswire | 15 November 2017 14:24 WIB
Ilustrasi. - Antara

Bisnis.com, MANADO – Balai Penelitian Tanaman Palma Provinsi Sulawesi Utara dalam Lokakarya Internasional Pengembangan Kelapa di Manado mengimbau petani kelapa untuk menanam varitas unggul untuk meningkatkan pendapatan.

"Penanaman ulang pohon kelapa perlu varitas yang bagus, kalau masih menggunakan yang biasa maka produktifitasnya juga tidak maksimal. Dengan menanam varitas unggul maka berpotensi menaikan keuntungan," kata ilmuwan senior di lembaga tersebut Hengky Novarianto, Rabu (13/11/2017).

Ia memaparkan masalah utama pada sektor tanaman kelapa antara lain kualitas dan tenaga yang kurang, area kepemilikan per individu yang kecil, hama dan penyakit, rendahnya produktivitas, dan masih menjadikan kopra sebagai andalan produk kelapa.

"Indonesia negara penghasil kelapa terbesar di dunia dengan total luas perkebunan mencapai 3,6 juta hektar. Tapi ada beragam masalah juga yang kita hadapi, namun kami dari Balai Palma pun sudah menyiapkan langkah untuk menghadapi itu," kata Hengky menerangkan.

Pihaknya telah berhasil mengembangkan sejumlah varitas kelapa unggul yang merupakan hasil dari penelitian secara sistematis yang diterapkan di lapangan melalui cara-cara persilangan varitas hingga modifikasi genetik.

Indonesia merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia, dengan luas lahan perkebunan mencapai 3,6 juta hektare dan jumlah produksi sebesar 2,8 juta ton per tahun.

Sebagai sentra penghasil kelapa dunia, Indonesia memiliki enam provinsi yang menjadi utama area produksi kelapa, antara lain Riau dengan produksi tahunan mencapai 419.000 ton, Sulawesi Utara 270.000 ton, Jawa Timur 259.000 ton, Maluku Utara 231.000 ton, Jawa Tengah 181.000 ton, dan Sulawesi Tenggara 167.000 ton.

Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI beserta Pusat Gerakan Non-Blok Kerja Sama Teknik Selatan-Selatan (NAM CSST) itu pada 14-17 November ini diselenggarakan dengan format diskusi panel yang diisi beragam pemaparan ilmiah dari beberapa lembaga riset seperti Badan Litbang Kementan RI, Puslitbang Palma Provinsi Sulawesi Utara, pelaku industri kelapa dalam negeri, hingga sektor swasta.

Lokakarya yang bertajuk ‘Innovation and Collaboration to Sustain Coconut Sector’ ini diikuti sebanyak 15 peserta dari 13 negara di kawasa Asia Pasifik antara lain Bangladesh, Fiji, Kiribati, Kamboja, Myanmar, Nauru, Papua Nugini, Sri Lanka, Kepulauan Solomon, Timor Leste, Tonga, Samoa, dan Indonesia.

Sumber : Antara

Tag : kopra, kelapa
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top