Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IMPOR GULA MENTAH: Pertentangan Pemerintah vs DPR Kian Tajam, Siapa Untung?

Kebijakan pemerintah untuk membuka impor gula mentah memicu 'pro kontra' antara pemerintah dan dewan anggota perwakilan rakyat.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 11 Oktober 2017  |  18:56 WIB
Seorang pekerja berdiri di antara tumpukan karung gula mentah - Bloomberg
Seorang pekerja berdiri di antara tumpukan karung gula mentah - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -  Kebijakan pemerintah yang berencana untuk membuka impor gula mentah jadi pemantik yang memicu 'pro kontra' antara pemerintah dan dewan anggota perwakilan rakyat.

Atas dasar mengancam produksi gula petani tebu Indonesia, anggota dewan cenderung menolak impor komoditas itu. Bahkan, upaya penentangan terhadap rencana impor itu, cenderung mulai meninggi.

Anggota DPR di Komisi IV –yang membawahi pertanian, kehutanan dan perikanan— bukan hanya ingin berjuang untuk mengurangi. “Bila perlu disetop,” kata Khilmi, anggota Komisi IV melalui siaran persnya, Rabu (11/10/2017).

Upaya penolakan itu, bukan dilakukan secara serampangan. Politikus dari Partai Gerindra itu mengatakan impor gula mentah berpotensi mengancam gula hasil produksi petani tebu dalam negeri. Lantaran pada saat yang bersamaan, ada indikasi keberadaan gula rafinasi  beredar di pasaran yang mengeyampingkan gula kristal putih lokal karena harganya lebih murah.

Dia meminta Kementerian Perdagangan melakukan perhitungan yang cermat. Paling tidak antara kebutuhan riil masyarakat dan pasokannnya.  Dia mencontohkan saat ini gula produksi dalam negeri belum terserap. Di sisi lain banyak gula rafinasi yang merembes ke pasar. “Ini ironis. Gula rafinasi membanjiri pasar,” tuturnya.

Pemerintah, sebelumnya, memberikan sinyal peluang importasi gula mentah dari Australia dengan menggunakan  kerangka ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area, yang menyepakati besaran bea masuk (BM) komoditas tersebut 5%.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan meski pemerintah membuka peluang impor gula mentah dari Australia, bukan berarti jumlah importasi bahan baku akan meningkat. "Jumlahnya tetap, tidak berubah.”

Enggar berdalih impor itu hanya memperbanyak sumber atau asal negara impor gula guna menekan harga. “Jadi tidak monopoli dari satu negara," kata Enggartiasto, seusai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia 2017 di Jakarta, Selasa (3/10).

Enggartiasto mengharapkan kesepakatan dengan Australia tersebut bisa menjadi alternatif pemasukan gula mentah oleh pelaku usaha. Dengan pasokan bahan baku berasal dari negara yang relatif lebih dekat, diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri dalam negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gula impor
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top