AKUISISI NYONYA MENEER: Gobel & Iwan Bogananta Saling Bersaing

Pengusaha nasional Rachmat Gobel kini punya pesaing baru. Iwan Bogananta, pebisnis yang lama berkecimpung di sektor batu bara, menyatakan ketertarikannya untuk mengambil alih dan mengembangkan perusahaan jamu Nyonya Meneer.
Anggara Pernando dan Arys Aditya
Anggara Pernando dan Arys Aditya - Bisnis.com 09 Oktober 2017  |  11:26 WIB

JAKARTA — Pengusaha nasional Rachmat Gobel kini punya pesaing baru. Iwan Bogananta, pebisnis yang lama berkecimpung di sektor batu bara, menyatakan ketertarikannya untuk mengambil alih dan mengembangkan perusahaan jamu Nyonya Meneer.

Hal itu terungkap dalam pertemuan antara Iwan dan Charles Saerang, pemilik dan Presiden Direktur Nyonya Meneer di salah satu restoran di bilangan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (6/10).

Iwan menyampaikan kini dirinya hanya tinggal menunggu putusan hakim pengawas mengenai status kepailitan terkait dengan sisa kewajiban untuk utang pajak, utang pekerja dan utang kreditur yang tidak memiliki aset. Putusan itu dijadwalkan akan dibacakan hari ini, Senin (9/10).

"Jadi kami selamatkan dulu brand-nya. Saya sudah bikin perusahaan baru dan akan memulai dari awal lagi. Saya tertarik sekali dengan Nyonya Meneer," kata Iwan di sela-sela pertemuan tersebut.

Perusahaan baru yang dimaksud adalah PT Dua Artha Mas, di mana Iwan duduk sebagai komisaris utama di perusahaan tersebut.

Sebelumnya, Rachmat Gobel hanya mengincar untuk mengambil alih nama merek dagang Nyonya Meneer, setelah rencana penyelamatan menemui jalan berliku dan tak dapat direalisasikan. “Namun begitu, saya tetap berharap dapat mengambil alih brand Nyonya Meneer dan membangunnya kembali,” ujarnya ketika itu, Rabu (4/10).

Proses kepailitan yang dimaksud adalah ketika Bank Pembangunan Daerah (BPD) Papua, salah satu kreditur, telah melakukan lelang atas sembilan aset milik Nyonya Meneer senilai Rp120 miliar di dalam jangka waktu 60 hari setelah putusan pailit pada 4 Agustus 2017. Hasil dari lelang tersebut digunakan untuk melunasi kewajiban Nyonya Meneer kepada Bank Papua senilai Rp69 miliar.

Charles menyebutkan, dirinya sangat menyayangkan langkah Gobel yang tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan aset-aset itu. “Padahal aset dan brand itu satu paket. Brand tanpa aset kan nilainya tidak ada sinergi,” kata Charles dalam pertemuan dengan Iwan.

Iwan sendiri mengaku telah melakukan due diligence secara menyeluruh terhadap Nyonya Meneer dan menyiapkan sejumlah dana dari kas perseroan barunya sendiri untuk menuntaskan proses akuisisi. Dengan bekal tersebut, dia juga menyatakan memiliki sejumlah rencana untuk perusahaan yang telah berdiri sejak 1919 tersebut.

“Setahun lah kita benahin dan perkuat fundamentalnya. Kenapa cepat? Karena brand-nya sudah kuat. Kecuali kalau kita merintis dengan brand atau image yang baru, itu gak gampang. Nyonya Meneer ada 212 produk dan itu masih amat sangat berpotensi. Kemarin itu kan cuma masalah mismanagement saja,” ujar Iwan.

Apabila proses akuisisi oleh Dua Artha Mas berlangsung mulus, Iwan akan duduk selaku chairman dan berjanji tetap mempertahankan perwakilan dari keluarga Nyonya Meneer di dalam manajemen. Charles sendiri diproyeksikan menjadi penasehat untuk perusahaan yang pernah dimilikinya ini.

Iwan mengatakan akan ada pembenahan besar-besaran dari sisi manajemen organisasi, distribusi dan pengembangan produk. Dia menuturkan akan lebih banyak menyasar segmen kalangan muda melalui produk yang lebih inovatif.

Bahkan, Iwan, yang menjabat sebagai Direktur Utama di PT Indo Wana Bara Mining Coal, menyebut telah memiliki rencana untuk membawa Nyonya Meneer melantai di bursa dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama sejak proses akuisisi terjadi.

“Kemungkinan saya akan bawa go public. Karena dengan kondisi ekonomi saat ini, kalau perusahaan masih konvensional, ya terbatuk-batuk. Arahnya ke situ, tapi kita benahin dulu nih semua,” paparnya dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut.

//INVESTOR STRATEGIS//

Kurator Kepailitan PT Nyonya Meneer mengundang sebanyak mungkin investor serius untuk dapat mengambilalih dan menyelamatkan merek pabrik jamu legendaris tersebut .

Kurator Kepailitan Nyonya Meneer Ade Liansah mengatakan merek jamu ini terbukti telah bertahan tiga generasi. Bahkan tahun depan terdapat investor yang serius menyelamatkan, perusahaan genap berusia 100 tahun.

"Produk jamu Nyonya Meneer ini harus diselamatkan dengan pertimbangan sudah berjalan tiga generasi. Kurator selalu terbuka dengan adanya investor,” kata Ade di Semarang, Minggu (8/10).

Ade tidak bersedia menyebutkan investor yang tengah berunding dengan tim kepailitan. Akan tetapi dalam sidang pencocokan tagihan, dia menyebutkan terdapat tiga investor strategis yang berbeda, termasuk tim Rachmat Gobel, yang melakukan pembicaraan pengambilalihan Nyonya Meneer melalui kurator.

Ade mengatakan saat ini tim kurator lebih fokus memperpanjang 72 merek yang kedaluarsa serta menelusuri harta bergerak milik perusahaan. Pasalnya hanya dua aset ini yang masih tersisa dari perusahaan setelah kreditur pemegang jaminan yakni Bank Papua berhasil melelang seluruh aset di bawah penguasaanya.

"Terlepas dari penjualan fixed asset milik Nyonya Meneer yang telah dieksekusi oleh Bank Papua kemarin, sampai saat ini kurator selalu terbuka dengan adanya investor," katanya.

Untuk melaksanakan lelang aset kekayaan intelektual ini, kurator terlebih dahulu harus mendaftarkan ulang ke Kementerian Hukum dan HAM. Ade mengatakan pihaknya belum dapat memperkirakan jadwal dan nilai aset karena membutuhkan penilaian dari pihak ketiga.

Pengacara Buruh dari kantor pengacara Anwar, Agoeng & Associates, Paulus Sirait mengharapkan kurator dapat menemukan harta lainnya dari Nyonya Meneer. Harta yang berhasil ditemukan diharapkan dapat dilepas dengan nilai semaksimal mungkin.

Paulus mengatakan saat ini pihaknya menunggu keputusan hakim pengawas mengenai ketidaksepakatan nilai piutang Nyonya Meneer kepada buruh. Pasalnya dari klaim Rp85 miliar yang diajukan, kurator hanya mengakui Rp29 miliar.

Sebelumnya dalam rapat pencocokan hutang, 83 kreditor telah mengajukan tagihan kepada kurator dengan nilai total tagihan Rp252,8 miliar. Tagihan ini termasuk tagihan dari Bank Papua sebesar Rp74 miliar.

Dari jumlah ini tim kurator membantah tagihan 49 kreditor konkruen termasuk sebagian tagihan dari buruh. Tagihan yang dibantah mencapai Rp47 miliar. Selain itu dilakukan pengakuan sementara untuk enam kreditor senilai Rp14,9 miliar. Pengakuan sementara ini dikarenakan kreditor belum dapat menunjukan tagihan asli ataupun dokumen pendukung lainnya. Kurator mempersilahkan dilakukan renvoi prosedur kepada para kreditor ini. (Gajah Kusumo/Stefanus A. Setiaji)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Nyonya Meneer

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top