Swasembada Pangan Masih Dibayangi Alih Fungsi Lahan

Target Kementerian Pertanian mencapai swasembada pangan dihadapkan pada tantangan masifnya alih fungsi lahan. Apalagi, banyak kabupaten/kota belum memiliki komitmen penuh menetapkan lahan pangan berkelanjutan.
Azizah Nur Alfi | 30 Agustus 2017 17:29 WIB
Petugas menjaga aneka produk pangan yang dijual usai peluncuran Gerakan Stabilisasi Pangan oleh Bulog, di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (17/5). - Antara/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Target Kementerian Pertanian mencapai swasembada pangan dihadapkan pada tantangan masifnya alih fungsi lahan. Apalagi, banyak kabupaten/kota belum memiliki komitmen penuh menetapkan lahan pangan berkelanjutan.

Data Ditjen Sarana dan Prasarana Kementerian Pertanian mencatat, laju konversi lahan pertanian produktif ke non produktif sekitar 100.000 ha per tahun. Dari angka ini, 80% diantaranya terjadi di Pulau Jawa yang merupakan sentra produksi padi.

Di sisi lain, realisasi pencetakan sawah baru selama kurun waktu 2014-2016 hanya 174.763 ha. Sementara, tingkat produktivitas tanaman padi pun masih tergolong rendah.

Luas penguasaan lahan petani pun semakin berkurang dari 0,22 pada 2012, diperkirakan menjadi 0,18 ha pada 2050. Upaya peningkatan kesejahteraan petani kian sulit.

"Di Yogyakarta, sawah sudah seperti sisir jika dilihat menggunakan drone. Galengan sawah tersisa 4 meter - 5 meter, dari seharusnya 20 meter - 40 meter. Ini menyulitkan mekanisasi," tutur Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Pending Dadih Permana dalam diskusi bertema Kinerja Kedaulatan Pangan dan Pemupukan Nasional di Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Dadih mengemukakan, pemerintah telah menggandeng dinas pertanian di daerah melakukan konsolidasi lahan seperti, di Sukoharjo Jawa Tengah seluas 152 meter persegi dari minimal 3.000 meter persegi - 5.000 meter persegi. Upaya serupa juga dilakukan di Bantul dari 10 ha menjadi 42 ha.

Sebelumnya, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian mencatat luas kekeringan pada pertanaman padi musim kemarau 2017 yakni periode April–Agustus hanya 5.379 ha. Angka ini setara dengan 0,11% dari total keseluruhan areal tanam pada periode yang sama sebesar 4,8 juta ha.

Plt Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan Yanuardi menyampaikan, luas kekeringan ini masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 0,25% dari luas areal tanam.  "Serangan kekeringan tahun ini lebih kecil," kata dia dihubungi pada Rabu (30/8/2017).

Dia menyampaikan, Kementerian Pertanian telah meminta dinas pertanian di daerah agar melakukan antisipasi kekeringan akibat musim kemarau, serta penanganan serangan organisme pengganggu tanaman.

Tag : pangan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top