Apindo: Sevel Tutup Akibat Persaingan Ritel yang Ketat

Tutupnya gerai 7-Eleven alias Sevel dinilai Asosiasi Pengusaha Indonesia sebagai imbas dari persaingan bisnis yang ketat di sektor itu.
Nurhadi Pratomo | 26 Juni 2017 18:40 WIB
Gerai 7-Eleven yang dikelola PT Modern Sevel Indonesia (MSI) Jakarta, Sabtu (24/6). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Tutupnya gerai 7-Eleven alias Sevel dinilai Asosiasi Pengusaha Indonesia sebagai imbas dari persaingan bisnis yang ketat di sektor ritel.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan pengentian operasi Sevel pada 30 Juni 2017 merupakan imbas dari persaingan di bisnis ritel yang ketat. Selain itu, margin yang didapat dari jenis usaha tersebut memang tipis.

“Ada yang bilang karena regulasi zaman Menteri Perdagangan Rachmat Gobel soal larangan penjualan minuman beralkohol. Namun, menurut saya lebih kepada kompetisi,” ujarnya di Jakarta, Senin (26/6/2017).

Hariyadi menilai seharusnya pihak manajemen Sevel lebih piawai mengantisipasi perubahan regulasi yang terjadi. Hal itu khususnya dalam membaca perubahan selera pasar.

“Mungkin bir memang menjadi daya tarik tapi bukan semata-mata karena itu karena banyak juga yang tidak menjual tetapi bisa sukses,” imbuhnya.

Dia menyebut dalam kondisi saat ini pihak manajemen ritel berperan penting dalam menentukan strategi bisnis yang tepat. Termasuk, soal urusan mengantisipasi perubahan regulasi.

“Secara bisnis ritel keseluruhan tidak terlalu berpengaruh karena mereka jumlahnya kecil,” jelasnya.

Pihaknya mencontohkan ada salah satu ritel sejenis Sevel yang memilki strategi memfokuskan bisnisnya di Bali. Mereka mengandalkan transaksi dari para turis.

“Kalau di ritel jika sudah bleeding maka harus segera ditutup sedangkan jika pasarnya sudah mulai berubah harus berani mengambil langkah,” tegas Hariyadi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel, 7-eleven, sevel

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top