Tahan Penurunan Stok Ikan, Pemerintah Lakukan Pengendalian

Pemerintah akan melakukan langkah pengendalian penangkapan ikan untuk mengerem penurunan stok di Selat Malaka dan Laut China Selatan yang masuk wilayah pengelolaan perikanan Indonesia.
Sri Mas Sari | 19 Juni 2017 19:47 WIB
Kementerian Kelautan dan Perikanan - Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah akan melakukan langkah pengendalian penangkapan ikan untuk mengerem penurunan stok di Selat Malaka dan Laut China Selatan yang masuk wilayah pengelolaan perikanan Indonesia.

Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja pengendalian akan dilakukan dengan dua cara, yakni penanganan di lapangan dan pembatasan izin kapal (surat izin penangkapan ikan/SIPI).

“Ditjen PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) akan bergerak intensif menangani trawl [di Selat Malaka]. Dari Sibolga, Tanjungpinang, trawl semua, di samping kapal-kapal Thailand,” katanya, Senin (19/6/2017).

Seperti diketahui, sejak 1980-an trawl dilarang digunakan. KKP kemudian menggolongkan alat tangkap ikan jenis pukat tarik (cantrang) dan pukat hela ke dalam trawl.

KKP juga tak segan mencabut SIPI pemilik kapal yang dinilai tidak tertib dan patuh aturan. “Pencabutan izin akan menahan upaya menangkap ikannya. Kalau upaya menangkap ikan ditahan, otomatis stok ikan akan membaik,” ujar Sjarief.

Di WPP yang mengalami kenaikan stok ikan, sekalipun izin dilepas, KKP akan menyesuaikan stok dengan jumlah kapal yang diperbolehkan beroperasi.

“Misalnya untuk cumi, menangkapnya dengan bouke ami misalnya. Kita harus tahu kapal bouke aminya harus ada berapa jumlahnya. Misalnya, ada 62.000 ton cumi di suatu WPP, untuk berapa kapal, itu yang menjadi dasar kami menerbitkan izin kapal di setiap WPP, baik izin pusat maupun daerah,” jelas Sjarief.

Dua wilayah pengelolaan perikanan (WPP) tercatat mengalami penurunan stok ikan lestari pada 2016 di tengan kenaikan secara keseluruhan.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan terbaru, stok ikan di WPP 571 [Selat Malaka] turun dari 484.414 ton pada 2015 menjadi 425.444 ton tahun lalu. Penurunan terjadi pada jenis ikan pelagis besar, ikan karang, dan lobster.

Koreksi pun terjadi di WPP 711 [Laut China Selatan] dari 1,14 juta ton pada 2015 menjadi 767.126 ton tahun lalu. Penurunan terjadi pada jenis ikan pelagis kecil, pelagis besar, demersal, ikan karang, udang penaeid, dan cumi-cumi. Sebaliknya, sembilan WPP terekam mengalami kenaikan

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perikanan

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top