RNI Gandeng Berdikari untuk Pengembangan Peternakan

PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) (Persero) menggandeng PT Berdikari (Persero) untuk mengembangkan industri peternakan nasional.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 18 Februari 2017  |  05:24 WIB
RNI Gandeng Berdikari untuk Pengembangan Peternakan
Ilustrasi peternakan sapi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) (Persero) menggandeng PT Berdikari (Persero) untuk mengembangkan industri peternakan nasional.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman tentang rencana kerja sama pengembangan peternakan di Gedung RNI di Jakarta.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PT RNI B. Didik Prasetyo dan Direktur Utama PT Berdikari Eko Taufik Wibowo.

Kerja sama itu bertujuan menyukseskan program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan protein hewani nasional.

Didik menyampaikan kerja sama itu untuk memastikan bahwa BUMN ikut berkontribusi bagi terwujudnya program pemerintah, salah satunya dalam bidang pangan yakni pemenuhan kecukupan konsumsi protein hewani nasional.

Dia menjelaskan saat ini tingkat konsumsi protein hewani nasional masih berada di bawah standar kecukupan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, rata-rata konsumsi protein hewani penduduk Indonesia 53,91 gram per kapita per tahun, sementara standar kecukupan konsumsi protein berada di angka 57 gram.

“Misi besar kami, pengembangan usaha sekaligus memastikan ketersediaan sumber protein hewani yang mampu dijangkau masyarakat luas. Kami melihat potensi yang besar dalam sinergi ini. Berdikari telah ditunjuk Kementerian BUMN sebagai pelaksana tugas pengembangan industri peternakan, sementara RNI punya pengalaman di bidang peternakan serta memiliki lahan yang luas dan representatif untuk industri peternakan,” tuturnya seperti dalam keterangan resmi pada Jumat (17/2/2017).

Dalam kerja sama ini, PT RNI dan PT Berdikari telah menyiapkan skema pengembangan peternakan dari hulu hingga hilir.

Di bidang industri sapi misalnya, pengembangan diarahkan pada industri terintegrasi melalui pelaksanaan impor sapi, pengelolaan penggemukan sapi dengan memanfaatkan kadang sapi milik PT RNI di Jatitujuh, Majalengka, serta komersialisasi hasil peternakan, hingga pengembangan indukan (breeding) di areal PT Berdikari, di Sidrap, Sulawesi Selatan.

Lebih lanjut, sinergi ini juga diarahkan pada pengembangan industri ayam potong yang kini hampir seluruhnya dikuasai oleh pihak swasta.

Skema yang akan dijalankan dengan membangun peternakan berbasis pembibitan sampai dengan final stock dan pembangunan pabrik pakan guna pemenuhan pakan secara swadaya.

Untuk merealisasikannya, PT RNI telah menyiapkan lahan startegis seluas 24 hektare milik PT PG Rajawali II di Cirebon, Jawa Barat.

Untuk memangkas harga daging di tingkat konsumen, komersialisasi hasil ternak akan dilakukan secara mandiri, di antaranya dengan menyinergikan peternakan ayam dan rumah potong hewan (RPH).

“Dalam pemasaran kami akan lakukan optimalisasi aset cool storage yang dimiliki RNI. Sistem pemasaran kita dorong melalui market place pasarprodukbumn.com yang dikelola PT Rajawali Nusindo, anak Perusahaan PT RNI yang bergerak dalam bidang distribusi dan perdagangan,” kata Didik.

Direktur Utama PT Berdikari Eko Taufik Wibowo menambahkan pihaknya sangat serius terhadap pengembangan industri peternakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional.

Eko Taufik optimistis sinergi ini dapat berjalan sesuai rencana apalagi ditunjang kompetensi yang dimiliki PT Berdikari dan pengalaman serta sumber daya yang dimiliki PT RNI.

RNI juga menjalin kerja sama dengan Bulog di sektor industri kemasan karung plastik dan distribusi gula. Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan oleh Direktur Utama PT RNI B. Didik Prasetyo dan Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti.

Didik menyebut total nilai kerja sama yang akan dijalankan antara kedua BUMN berbasis pangan ini sebesar Rp 300 miliar.

Kerja sama saling menguntungkan antara PT RNI dan Bulog sebetulnya telah terjalin sejak lama, salah satunya melalui Anak Perusahaan PT RNI, PT Rajawali Citramass yang bergerak dalam bidang industri karung plastik.

“Dengan adanya MoU ini diharapkan skala kerjasama antara RNI dan Bulog akan semakin besar, tidak hanya dalam aktivitas pengadaan karung plastik untuk produk-broduk Bulog, tetapi juga dalam investasi peningkatan kapasitas pabrik atau pembukaan pabrik baru,” tuturnya melalui siaran pers.

PT Rajawali Citramass telah menjadi supplier karung plstik Bulog sejak 1993. Saat ini sekitar 30% total produksi karung plastik PT Rajawali Citramass diserap Bulog.

Selain dengan Bulog, PT Rajawali Citramass juga memasok kebutuhan karung plastik BUMN lain, seperti PT Pupuk Indonesia Holding Company (Persero) serta PT Perkebunan Nusantara XI dan XII.

Dengan kapasitas produksi 60 juta lembar karung plastik per tahun, perusahaan yang terletak di Mojokerto, Jawa Timur ini tengah berupaya meningkatkan kapasitas produksinya guna memenuhi permintaan pasar yang semakin besar. Pada tahun 2014, rata-rata konsumsi karung plastik sekitar 225.000 ton, di mana 1 ton terdiri dari kurang lebih 32.000 lembar karung plastik.

“Skema kerja sama bisa berbentuk investasi peningkatan kapasitas pabrik atau pembentukan join venture pendirian industri kemasan. RNI punya pengalaman dalam industri kemasan dan Bulog punya komoditas, hal tersebut yang membuat kerjasama ini strategis,” ungkap Didik.

Lebih lanjut, dia mengatakan selain industri kemasan, kerja sama juga akan diarahkan pada sektor pangan. Sebagai BUMN dengan bisnis utama industri gula, RNI siap memasok kebutuhan gula Bulog.

Bulog tengah menjalankan program Rumah Pangan Kita dan Bantuan Pangan Non Tunai. Kedua program tersebut erat kaitannya dengan suplai kebutuhan pokok seperti gula.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternakan, rni

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top