Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Anjlok 50%, Bupati Lampung Tengah Ancam Konversi Lahan Singkong

emerintah Kabupaten Lampung Timur akan mengkonversi lahan singkong jika harga komoditas tersebut terus anjlok sebagai buntut masih dibukanya keran impor.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 20 Desember 2016  |  16:23 WIB
Singkong - Antara
Singkong - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Lampung Timur akan mengkonversi lahan singkong jika harga komoditas tersebut terus anjlok sebagai buntut masih dibukanya keran impor.

“Harus ada konversi. Petani singkong di Lampung Timur merugi selama 2016. Harganya anjlok lebih dari 50% atau jadi Rp350/kg dari sebelumnya Rp1.300/kg,” kata Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim dalam keterangan resmi, Selasa (20/12/2016).

Dia menilai kebijakan konversi lahan harus diambil untuk mengendalikan produksi singkong yang berlebih. Meski begitu, Chusnunia sesungguhnya berharap agar pemerintah pusat membatasi kuota impor singkong agar pengusaha pengolahan hanya membeli bahan baku dari petani.

Merosotnya harga singkong juga dirasakan oleh petani di Lampung Tengah. Bupati Lampung Tengah Mustafa mengatakan kondisi itu ironis karena areal pertanian singkong di daerahnya merupakan yang terbesar di Indonesia.

“Sebanyak 30% kontribusi pertanian di Lampung Tengah adalah singkong. Namun, kini harga jatuh,” ujarnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Herman Khaeron memastikan parlemen akan segera memanggil Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Menurutnya, penurunan harga merupakan imbas distorsi impor.

“Pada dasarnya kami tidak setuju adanya impor singkong jika produksi singkong dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lampung komisi iv dpr singkong
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top