Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Presiden Terima Data Dwelling Time Berbeda dari Menhub dan Dirut Pelindo II

Presiden menerima laporan dari Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Elvyn G. Masassya bahwa dwelling time telah mencapai 3,2 hari. Namun, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melaporkan kepada Presiden bahwa dwelling time Tanjung Priok masih memakan waktu hingga 3,7 hari.
Irene Agustine
Irene Agustine - Bisnis.com 13 September 2016  |  11:14 WIB
Presiden Terima Data Dwelling Time Berbeda dari Menhub dan Dirut Pelindo II
Foto udara Pelabuhan Terminal Peti Kemas 1 di Pelabuhan Kalibaru, Jakarta Utara, Jumat (5/8/2016). - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA --Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Dirut Pelindo II Elvyn G Masassya memberikan data yang berbeda kepada Presiden Joko Widodo soal waktu bongkar muat (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Priok.

Presiden menerima laporan dari Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Elvyn G. Masassya bahwa dwelling time telah mencapai 3,2 hari. Namun, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melaporkan kepada Presiden bahwa dwelling time Tanjung Priok masih memakan waktu hingga 3,7 hari.

"Hari ini, Dirut Pelindo bilang dwelling time 3,2 hari, Pak menhub bilang 3,7 hari. Ya antara itu. Saya mintanya dua komaan. Jangan berhenti di 3,2 hari lalu sudah senang," katanya saat meresmikan operasional Terminal Petikemaa Kalibaru Fase 1, Selasa (13/9/2016).

Presiden menginginkan waktu bongkar muat (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Priok dapat segera mendekati waktu 2,2-2,5 hari setelah Terminal Petikemas Kalibaru Fase 1 Tanjung Priok resmi beroperasi.

Sebelumnya, Kepala Negara telah menerima laporan dari Menteri Perhubungan bahwa waktu dwelling time perlahan-lahan telah membaik dibandingkan dengan sidaknya pada dua tahun lalu, yang mencapai waktu 6-7 hari.

Presiden menginginkan Terminal Petikemas Kalibaru Fase 2 dan 3 dan dua terminal produk dapat selesai pada 2019.

Dia mengatakan percepatan pembangunan harus segera dilakukan karena Indonesia masih kekurangan kapasitas terminal, guna meningkatkan daya saing.

Terminal Petikemas Kalibaru telah dioperasikan secara komersial pada tanggal 18 Agustus 2016 dengan skema Joint Venture (JV) Company antara lPC TPK dan Konsorsium Mitsui -PSA NYK Line, yaitu PT New Priok Container Terminal One (NPCT1).

Dengan adanya Terminal Petikemas Kalibaru maka kapasitas terminal petikemas di Tanjung Priok bertambah 1,5 juta TEUs/ tahun. Rencananya, setiap fase terminal nantinya akan berkapasitas sama.

Terminal Kalibaru dibangun dalam rangka membangun kapasitas secara bertahap untuk mengantisipasi pertumbuhan arus petikemas dan kargo Pelabuhan Tanjung Priok.

Kapasitas penanganan petikemas Pelabuhan Tanjung Priok yang semula berkisar 5 juta TEUs tahun pada tahun 2009-2010, ditanggulangi dalam jangka pendek dengan melakukan konfigurasi terminal, penambahan peralatan dan penataan pola operasi kini menjadi 7 juta TEUs/tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jokowi dwelling time tanjung priok
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top