Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PASOKAN GARAM: Gapmmi Mulai Ingatkan Pengaruh Cuaca

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia meminta Pemerintah untuk mengantisipasi cuaca buruk yang bisa menyebabkan kendala bahan baku dan bahan penolong domestik bagi produksi industri olahan nasional.
Arys Aditya
Arys Aditya - Bisnis.com 02 September 2016  |  16:38 WIB
Petani membersihkan garamnya usai panen di Palu, Sulawesi Tengah. - .Antara/Basri Marzuki
Petani membersihkan garamnya usai panen di Palu, Sulawesi Tengah. - .Antara/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA—Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia meminta Pemerintah untuk mengantisipasi cuaca buruk yang bisa menyebabkan kendala bahan baku dan bahan penolong domestik bagi produksi industri olahan nasional.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mengatakan pihaknya telah menerima informasi bahwa produksi bahan penolong seperti garam baru akan dimulai, meskipun sangat sedikit sekali.

Adapun, pelaku usaha produksi garam nasional tahun ini diprediksi akan mengalami penurunan dibandingkan pada tahun lalu yang diakibatkan karena cuaca buruk. Target produksi garam nasional  pada tahun ini dipatok 3 juta ton dengan target luas lahan produksi 24.000 hektar.

"Masalah utama garam Indonesia tergantung cuaca. Beda dengan Australia yang punya rock salt. Biasanyammi di sini akhir Juli ini sudah produksi. Bahkan di Jabar (Jawa Barat)  parah, belum bisa mulai produksi," kata Adhi melalui keterangan tertulis, Jumat (2/8/2016).

Dia pun menyarankan pemerintah harus melakukan pembenahan di hulu, seperti memperbaiki teknolog untuk meningkatkan produktivitas dan tetap mengusahakan perluasan luas lahan.

"Pembenahan di hulu harus tetap dilakukan. Terutama berkaitan dengan luas lahan, teknologi produktivitas, peningkatan mutu. Sehingga pada saat cuaca bagus, bisa stok," ungkap Adhi.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah seharusnya tidak alergi untuk melakukan impor garam, khususnya untuk industri karena akan memberikan nilai tambah melalui produksi produk hilir seperti makanan, minuman dan lainnya. Menurutnya, impor garam untuk industri tidak akan mengganggu produksi garam nasional.

Selain itu, menurutnya, Indonesia bisa mencontoh negara maju dan besar yang lebih memikirkan nilai tambah dalam negeri.

"Negara besar dan maju, tidak lagi memikirkan impor atau tidak. Tapi lebih memikirkan adanya nilai tambah dalam negeri dan suplly ke global market," ungkap Adhi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gapmmi
Editor : Linda Teti Silitonga
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top