Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SWASEMBADA JAGUNG: Paling Lambat, Indonesia Bisa 2018

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman menargetkan Indonesia bisa swasembada jagung paling lambat 2018.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 18 Juli 2016  |  18:14 WIB
Petani mengumpulkan jagung hasil panen, di kecamatan Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (10/5/2015). - Antara/Abriawan Abhe
Petani mengumpulkan jagung hasil panen, di kecamatan Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (10/5/2015). - Antara/Abriawan Abhe

Bisnis.com, MOJOKERTO - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman menargetkan Indonesia bisa swasembada jagung paling lambat 2018.

"Saat ini kami membangun sistem supaya petani sejahtera, pengusaha untung dan konsumen tersenyum. Dan yang hari ini kami bahagia lagi yaitu transaksinya dibayarkan secara tunai pada hari ini," katanya saat panen jagung di lahan kemitraan petani jagung binaan PT BISI Internasional Tbk seluas 20 hektar di Kecamatan Dlanggu, Mojokerto, Jawa Timur.

Ia mengemukakan pemerintah sangat mendukung adanya program kemitraan ini salah satunya adanya bantuan program kemitraan sebesar 100.000 hektar yang tersebar di Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan Sulawesi Selatan.

"Jika ada 10 pengusaha yang melakukan program seperti ini artinya akan ada 1 juta hektar dan tidak ada lagi impor jagung, ini luar biasa. Pemerintah akan menyuport melalui regulasi dan kalau sudah cukup dalam negeri impor tutup," katanya.

Ia mengatakan sampai dengan saat ini pemenuhan kebutuhan jagung turun sebanyak drastis 47 persen atau sekitar 800 ribu sampai dengan satu juta ton.

"Impor jagung turun, sampai hari ini 47% atau sekitar 800.000 sampai satu juta ton. Kami targetkan tahun depan tidak ada impor lagi. Paling lambat 2018," katanya.

Amran optimistis dalam waktu dua tahun ke depan, Indonesia tak akan lagi mengimpor jagung, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun industri pakan ternak.

"Pemerintah support regulasi, kalau cukup dalam negeri kami tutup impor. Harga kami jamin. Kami garansi kalau ada harga di bawah Rp2.750, Bulog langsung beli. Itu perintah, bukan imbauan. Itu sudah Perpres, harga jagung kering Rp3.150," katanya.

Kemitraan yang Amran maksudkan, seperti yang dilakukan PT BISI dan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI). Sebagai produsen benih jagung hibrida, PT BISI menjalin kemitraan dengan para petani dengan cara memberi pinjaman benih dan melakukan pembinaan. Tahun ini pola kemitraan itu akan menyentuh 100 ribu hektar lahan petani.

"Pola ini sangat bagus, PT CPI sudah membeli jagung petani Rp3.450. Inilah yang kami dambakan. Kalau ada 10 pengusaha seperti ini, akan mencapai 1 juta hektar. Kalau 1 juta hektar enggak lagi impor," ujarnya.

Sementara Presiden Direktur PT BISI Internasional Jemmy Eka Putra menjelaskan tahun ini pihaknya menargetkan kemitraan dengan petani mencapai 100 ribu hektar. Tersebar di lima provinsi utama penghasil jagung. Antara lain, Jatim, Jateng, Sulsel, Lampung dan Sumut.

Hingga saat ini, target itu telah tercapai 30.000 hektare. Salah satunya di Kabupaten Mojokerto seluas 5.000 hektare.

"Petani kami beri pinjaman benih jagung dibayar pasca panen. Kita melakukan pembinaan cara tanam yang baik, manajemen saat penanaman, dan pasca panen agar jangan sampai jagung jamuran," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT CPI Thomas Effendy menuturkan jika target kemitraan petani dengan PT BISI tahun ini tercapai 100 ribu hektar, maka jagung yang dihasilkan diprediksi mencapai 800.000 ton.

"Itu masih dibawah kebutuhan kami dan tak ada masalah untuk membeli itu. Kami komitmen membeli hasil panen petani dengan harga pasar. Kalau harga pasar di bawah harga referensi pemerintah Rp3.150, maka kami akan beli sesuai harga referensi pemerintah," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga jagung impor jagung

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top