Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tekstil & Produk Tekstil: Industri Hilir Perlu Insentif

Pemerintah disarankan untuk memberikan insentif terhadap industri hilir yang masih menggunakan tekstil produksi dalam negeri guna menggairahkan kembali industri tekstil dan produk tekstil (TPT).
Adi Ginanjar Maulana, Hedi Ardhia
Adi Ginanjar Maulana, Hedi Ardhia - Bisnis.com 28 Juni 2016  |  16:27 WIB

Bisnis.com, BANDUNG--Pemerintah disarankan untuk memberikan insentif terhadap industri hilir yang masih menggunakan tekstil produksi dalam negeri guna menggairahkan kembali industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Sebelumnya Kementerian Perindustrian mendorong para pelaku industri tekstil untuk mendiversifikasi produk usahanya agar penjualan mereka yang selama dua tahun terakhir stagnan bisa kembali tumbuh.

Ekonom dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Poppy Rufaidah mengatakan, insentif bisa diberikan pemerintah terhadap pengguna kain tertentu guna memperkuat daya tahan sektor padat karya tersebut.

"Pemerintah harus memberi insentif untuk industri hilir yang menggunakan bahan baku dalam negeri. Pengemplang pajak saja diberikan [insentif], masa ini engga ada," katanya, Selasa (28/6).

Menurutnya, kelesuan usaha yang dialami pelaku industri tekstil selama ini karena mayoritas masih menggunakan mesin lama, sehingga produksinya tidak berkembang baik dari jumlah maupun jenisnya. Padahal, selera konsumen terus berkembang.

Selain itu, untuk diversifikasi produk butuh kreativitas dan tehnik tertentu di pertekstilan, serta membutuhkan invovasi dari pelaku usaha.

"Pengembangan TPT juga perlu berkolaborasi dengan para desainer yang memiliki kemampuan membaca tren pasar. Masalahnya, spesifikasi mesin juga hanya untuk kain tertentu," ujarnya.

Sekretaris Apindo Jabar Martin B. Chandra mengatakan saat ini dunia usaha di dalam negeri harus bisa menekan efisiensi sekaligus menciptakan inovasi produk terutama tekstil yang berbeda agar daya saing bisa meningkat.

Menurutnya, produk dalam negeri yang sebagian besar mirip dengan negara lain membuat daya saing menjadi semakin rendah.

"Kalau berbicara perdagangan internasional sudah tidak bisa dihindari, karena dalam bisnis daya saing merupakan hal wajar," katanya.

Martin menuturkan, untuk menekan efisiensi sekaligus inovasi produk maka dukungan dari pemerintah diperlukan. Setidaknya bisa memberikan kebijakan agar dunia usaha bisa melakukan hal itu semua.

Dia menjelaskan, penyamaan persepsi antara hulu dan hilir industri diperlukan untuk melakukan efisiensi dan inovasi produk tersebut.

"Mulai dari hulu hingga hilir pemerintah harus bisa menyamakan persepsi. Karena kalau satu instrumen saja yang melakukan efisiensi tidak akan berpengaruh," ujarnya.

Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jabar Kevin Hartanto mengatakan pesanan tekstil dan produk tekstil (TPT) di Jabar saat ini masih dalam tahap pemulihan seiring anjloknya permintaan pada tahun lalu.

"Kondisi tahun ini jauh lebih baik dibanding 2015 yang ekstrem akibat perlambatan ekonomi nasional," ujarnya.

Kendati lebih baik dari 2015, Kevin menuturkan jumlah permintaan TPT tahun ini belum sebaik pada 2013 dan 2014. Saat itu, lonjakan permintaan sudah terjadi di awal tahun yang dimulai dari produksi hulu seperti benang dan kain sangat bagus. Kondisi di hulu tersebut berimbas pada hilir di mana permintaan pasar cukup tinggi.

Kevin menjelaskan, pada awal 2016 hanya sebagian industri hulu yang menerima permintaan cukup besar. Hal ini terjadi karena impor TPT dari China terus membanjiri pasar domestik.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri tekstil industri hilir
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top