Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Gula Topang Laba RNI 2015

Kendati mengalami penyurutan hebat pada bisnis sektor perkebunannya, PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI Persero) berhasil membukukan laba bersih konsolidasi perusahaan sebesar Rp69 miliar pada tahun anggaran 2015.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 15 Juni 2016  |  16:07 WIB
Industri Gula Topang Laba RNI 2015
Gula - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Kendati mengalami penyurutan hebat pada bisnis sektor perkebunannya, PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI Persero) berhasil membukukan laba bersih konsolidasi perusahaan sebesar Rp69 miliar pada tahun anggaran 2015.

Angka tersebut sebagian besar ditopang oleh industri gula sebagai unit bisnis utama RNI, unit bisnis sektor farmasi dan alat kesehatan, dan laba sektor perdagangan.

Adapun, disebabkan oleh fluktuasi harga komoditas, laba sektor perkebunan mengalami penurunan drastis.

Secara rinci, laba sebelum pajak industri gula yaitu Rp209,334 miliar atau naik 10,4% dari kontribusi tahun lalu, laba industri farmasi dan alat kesehatan naik signifikan yaitu 51,9% ke lebel Rp83,15 miliar.

Laba sektor perdagangan tercatat Rp22,22 miliar, sedangkan sektor perkebunan labanya minus Rp73,89 miliar.

Direktur Utama RNI Didik Prasetyo dalam keterangan resminya menyampaikan laba bersih konsolidasi Rp69 miliar tersebut pun naik total 120,88%, setelah perseroan sempat mengalami kerugian Rp330,53 miliar di tahun sebelumnya.

“Perseroan telah melakukan beberapa langkah strategis yang tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan [RKAP] 2015,” terang Didik di Jakarta, Rabu (15/6).

Didik menjelaskan untuk tetap menjaga laba perusahaan, dia menyusun kebijakan strategis dalam hal investasi dan manajemen keuangan.

Perusahaan, katanya, didorong meingkatkan kapasitas produksi, pangsa pasar, peningkatan kualitas produk dan nilai tambah.

Untuk itu, RNI akan memberlakukan proses investasi yang efektif namun selektif, dengan melalui proses studi kelayakan (feasibility study) yang komprehensif.

“Tidak ada lagi investasi dan pengembangan yang dilakukan tanpa kajian mendalam,” tambah Didik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pt rni industri gula
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top