Aptrindo Sarankan NTT Bangun Rumah Potong Hewan

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menilai salah satu upaya memenuhi kebutuhan daging di Ibu Kota tanpa menguras biaya logistik adalah membangun rumah pemotongan hewan di Nusa Tenggara Timur.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 19 April 2016  |  17:29 WIB
Aptrindo Sarankan NTT Bangun Rumah Potong Hewan
Rumah potong hewan - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menilai salah satu upaya memenuhi kebutuhan daging di Ibu Kota tanpa menguras biaya logistik adalah membangun rumah pemotongan hewan di Nusa Tenggara Timur.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Bidang Angkutan Distribusi dan Logistik, Kyatmaja Lookman mengatakan, Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu memikirkan cara yang lebih efisien dalam mengirimkan daging ke Jakarta.

Kyatmaja mengusulkan perlunya pendirian rumah pemotongan hewan (RPH) di NTT sehingga sapi yang dikirimkan ke Jakarta sudah dalam bentuk daging.

Menurutnya, sapi utuh yang dikirim ke Jakarta menaikkan biaya logistik karena adanya sejumlah kebutuhan bagi sapi utuh, misalnya kebutuhan pakan. Biaya tersebut masih belum dihitung dengan resiko kematian sapi utuh selama perjalanan.

“Itu masalah mengapa menurut saya biaya logistik masih mahal. Kiriman sapi itu 20ft, satu ekor sapi 1 ton dagingnya saja 300 kilogram. 20 ton ton dibagi 300 kilogram ada sekitar 67 ekor daging sapi, lalu 20 ton itu dikali Rp100.000 per kilogram saja, ada sekitar Rp2 miliar. Ongkos transportnya hanya 0,3%,” ujar Kyatmaja kepada Bisnis, Selasa (19/4).

Selain efisiensi biaya transportasi dan logistik, pembangunan RPH menurut Kyatmaja akan menyediakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat setempat.

Presiden Direktur PT Lookman Djaja Land ini memadang tata kelola logistik di Indonesia belum baik. Adapun perbandingan pengiriman barang mentah dengan barang jadi 0,3% banding 10%.

“Selama ini kita memang mengirim barang mentah padahal barang jadi memiliki komposisi biaya yang lebih kecil. Makanya kita akan mudah tergoncang dengan ketidakstabilan harga minyak. Pengaruh terbesar kedua adalah besarnya upah, sehingga mau tak mau daya beli masyarakat terkena imbas atas tingginya harga dan itu perlu diperbaiki,” ungkapnya lagi.

Kyatmaja mengakui untuk merealisasikan RPH tersebut dibutuhkan pula infrastruktur penunjang guna menjamin kelayakkan barang jadi, yakni coldstorage dan butuh reefer container. Kyatmaja pun menilai investasi coldstorage ataupun reefer container tidak terlampau mahal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ntt, rph, Aptrindo

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top