Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PLTU BATANG: Komnas HAM Surati PM Abe. Minta Proyek Dikaji Ulang

Komisi Nasional dan Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menulis surat resmi ke Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk meninjau kembali dukungan negara tersebut terhadap PLTU di Batang, Jawa Tengah karena dugaan pelanggaran HAM dalam akuisisi lahan.
Anugerah Perkasa
Anugerah Perkasa - Bisnis.com 10 Januari 2016  |  18:07 WIB
Warga Batang melakukan aksi demo saat Presiden Jokowi ke PLTU Batang, Rabu (29/4/2015). - Greenpeace
Warga Batang melakukan aksi demo saat Presiden Jokowi ke PLTU Batang, Rabu (29/4/2015). - Greenpeace

Bisnis.com, JAKARTA -- Komisi Nasional dan Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menulis surat resmi ke Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk meninjau kembali dukungan negara tersebut terhadap PLTU di Batang, Jawa Tengah karena dugaan pelanggaran HAM dalam akuisisi lahan.

Komisioner Komnas HAM Dianto Bchriadi menuturkan pihaknya telah meminta Perdana Menteri Abe dan parlemen Jepang untuk secara serius meninjau kembali proyek tersebut. Surat itu dikirimkan pada 21 Desember lalu.

"Kami tidak mengatakan kami menolak proyek itu. Kami tidak mengatakan kami tak setuju dengan investasi Jepang, tetapi mohon hormati HAM ketika berinvestasi di Indonesia," kata Dianto kepada The Japan Times, dikutip Bisnis.com, Minggu (10/1/2016).

PLTU Batang itu memiliki kapasitas 2x1.000 MW diperkirakan sudah mengganti lahan yang sebagian besar adalah sawah produktif seluas 226 hektare.

Greenpeace Indonesia menyatakan jika pembangunan terus dilakukan maka ribuan keluarga di Desa Karanggeneng, Desa Ponowareng dan Desa Ujungnegoro, akan kehilangan mata pencaharian.

Dalam surat itu, Dianto menyatakan bahwa pelbagai pelanggaran HAM terjadi ketika proses akuisisi lahan dilakukan sejak 2103.

Hal itu termasuk intimidasi dan ancaman fisik serta mental kepada warga lokal yang kehidupannya bergantung pada area di mana proyek itu tengah berlangsung.

Komnas HAM juga mencatat tentang peralatan berat yang dikendalikan aparat militer yang disewa pemerintah dan konsorsium perusahaan. Ini untuk membuat kanal yang 'mengepung' properti orang-orang yang menolak lahannya untuk dijual.

Proyek itu dikerjakan PT Bhimasena Power Indonesia, konsorsium yang terdiri dari tiga perusahaan. Mereka adalah Adaro Power, dan dua perusahaan Jepang yaitu, J-Power dan Itochu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pltu batang
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top