Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sulawesi Tengah Dikepung Krisis Listrik, PLN: Tak Ada Solusi

Sudah beberapa hari terakhir ini, masyarakat di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah, termasuk warga Kota Palu, tidak mendapatkan pasokan listrik secara normal.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 25 September 2015  |  11:28 WIB
Krisis listrik - Ilustrasi
Krisis listrik - Ilustrasi

Bisnis.com, PALU - Sudah beberapa hari terakhir ini, masyarakat di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah, termasuk warga Kota Palu, tidak mendapatkan pasokan listrik secara normal.

Setip enam jam, baik pagi maupun malam hari, warga di Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong dan Kota Palu, harus bersabar diri tidak menikmati listrik yang selama ini disuplai PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

"Dan ini sangat menyiksa dan merugikan masyarakat pelanggan listrik," kata Basri, seorang guru pada salah satu SD Negeri di Ibu Kota Provinsi Sulteng, Jumat (25/9/2015).

Dia mengatakan selama ini kebanyakan masyarakat mengandalkan pasokan listrik PLN dan rata-rata kegiatan yang dilakukan sangat bergantung dari listrik.

Karena itu, jika pasokan listrik PLN terhenti, apa lagi sampai berjam-jam, otomatis sangat merugikan masyarakat.

Salah satu contoh, usaha warung internet (warnet) yang sudah digelutinya sejak beberapa tahun ini tidak bisa berjalan kontinu sepanjang hari karena ada pemadaman yang diberlakukan PLN.

Akibat dari pemadaman bergilir, Basri mengaku merugi banyak. Padahal usaha tersebut selama ini menjadi sumber untuk menghidupi istri dan anaknya.

Hal senada juga diungkapkan Marten Satu, seorang tukang mebel di bilangan jalan Lembu, Kelurahan Tatura Selatan, Kota Palu.

Lelaki kelahiran Toraja, Sulawesi Selatan, yang menghidupi istri dan empat anaknya dengan usaha itu juga mengeluh karena dalam beberapa hari ini tidak maksimal melakukan pekerjaanya akibat pasokan listrik tidak normal.

"Usaha kami ini butuh listrik. Kalau listriknya padam, berarti tidak bisa kerja maksimal karena sebagian besar alat pertukangan digerakan listrik," katanya.

Kedua warga Palu itu hanya berharap program pemadaman listrik yang dilakukan PLN secepatnya bisa berakhir karena dampaknya bagi masyarakat cukup terasa.

Hampir semua kegiatan yang dilakukan masyarakat di Palu banyak berhubungan dengan listrik, kata Marten.

Lain lagi dialami Johni, warga Jalan Vatulemo Palu. Pria itu kesal karena kartu chip BNI tertinggal di mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) gara-gara listrik padam.

Padahal, kata dia, saat ini, ia sangat membutuhkan uang. "Saya terpaksa mengambil uang tabungan di bank secara manual," katanya.

PLTA Tertimpa Pohon

Sementara itu, Manager PT PLN Area Palu Novalince Pamusu membenarkan sejumlah wilayah di Sulteng sudah berlangsung sepekan ini mengalami krisis listrik menyusul tiga tower Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sulewana Poso rusak karena tertimpa pohon tumbang.

Padahal sebagian kebutuhan listrik masyarakat di sejumlah wilayah di Sulteng seperti Poso, Parigi Moutong, Donggala, Sigi dan Kota Palu mendapat suplai daya dari PLTA Sulewana Poso.

Akibat dari kerusakan tersebut, sejak 21 September 2015 hingga waktu yang belum diketahui, PLN terpaksa memberlakukan program pemadaman bergilir, termasuk di sejumlah desa di Kabupaten Poso.

Ia menambahkan khusus sistem kelistrikan Palu yang selama ini masih melayani kebutuhan listrik masyarakat di Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong dan Kota Palu saat ini mengalami defisit daya cukup besar.

Selama ini, kata dia, PLTA Sulewana Poso menyuplai daya ke sistem kelistrikan Palu sebesar 24 megawaat (MW).

Otomatis dengan kekurangan daya sebesar itu, PLN dipastikan memberlakukan pemadaman bergilir secara merata di sejumlah wilayah Sulteng.

PLN hingga kini tidak memiliki cadangan mesin pembangkit dengan kapasitas besar untuk sewaktu-waktu digunakan saat terjadi gangguan pada PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Disel), PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) dan PLTA.

"Memang sangat berat hati PLN melakukan pemadaman, tetapi harus dilakukan karena kekurangan daya," katanya.

Karena defisit daya cukup besar, maka PLN menerapkan pemadaman listrik di wilayah sistem kelistrikan Palu setiap enam jam.

Pemadaman dilakukan pada pagi maupun malam hari. "Jadi setiap enam jam, listrik padam dan diberlakukan sama di setiap kabupaten dan kota," kata Novalince.

Lokasi Transmisi Tim gabungan PLN Wilayah VII Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo, mengalami hambatan berat untuk memperbaiki tiang dan jaringan listrik PLTA Poso yang rusak karena lokasinya berada di tengah hutan yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

"Ada tiga tower Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang rusak dan semuanya tidak memiliki akses jalan yang memadai," kata Novalince.

Bahkan, kata dia, lokasinya berada pada ketinggian dan tebing. Mereka terpaksa harus memikul bahan-bahan yang diperlukan untuk perbaikan tower dan jaringan yang rusak akibat tertimpa pepohonan tumbang pada Senin (21/9).

Selain kondisi medan yang sulit, juga ditemukan beberapa titik api/kebakaran di dalam hutan sehingga tim semakin sulit mendekati lokasi.

Tower transmisi PLTA yang rusak ditimpa pohon adalah tower nomor 79, 80 dan 81. Ketiga tower itu berada pada wilayah Pamona Utara antara Sulewana-Poso.

Untuk menormalkan kembali membutuhkan waktu cukup lama. Memang PLN menargetkan perbaikan seminggu. Tetapi dengan melihat kondisi medan sukup sulit tersebut, kemungkinan besar upaya perbaikan membutuhkan waktu lebih dari seminggu.

Kondisi tersebut memang salah satu hambatan utama yang dihadapi kontraktor saat pembangunan tower transmisi PLTA dari Sulewana menuju Gardu Induk (GI) Sidera di Kabupaten Sigi yang selanjutnya mendistribusikan daya ke Kota Palu dikerjakan selama tiga tahun itu.

Menurut dia, tidak ada solusi mengatasi kekurangan daya sebesar itu, sehingga pemadaman secara bergilir dalam jangka waktu yang belum diketahui terpaksa haru berlanjut.

Sistem kelistrikan Palu selama ini melayani kebutuhan listrik di Kabupaten Sigi, Donggala, sebagian Kabupaten Parigi Moutong serta Kota Palu dengan total pelanggan sekitar 250 ribu sambungan dan kebutuhan daya sekitar 60 MW saat beban puncak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sulawesi tengah krisis listrik

Sumber : Antara

Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top