Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelemahan Rupiah Picu Kepanikan, Pengamat: Ekonomi RI Masih Kuat

Ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono mengatakan kondisi perekonomian dan nilai tukar rupiah saat ini berbeda saat krisis pada 1998.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 25 Agustus 2015  |  19:31 WIB
Ilustrasi - bisnis.com
Ilustrasi - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada hari ini, Selasa (25/8/2015), ditutup melemah 0,03% atau 4 poin ke level Rp14.054 per dolar AS.

Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) melemah 69 poin atau terdepresiasi 0,49% ke level Rp14.067 per dolar AS. Kurs tengah Bank Indonesia, rupiah di level Rp 14.067 atau melemah 69 poin.

Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup pada level 4.228,50, naik 1,56% atau 64,7 poin. 

Ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono mengatakan kondisi perekonomian dan nilai tukar rupiah saat ini berbeda dengan saat krisis 1998.

"Saat itu inflasi sampai 78% akibat ketidakpercayaan pada rupiah. Saat ini, inflasi terjaga dengan baik. Meski kredit melemah, bank masih cukup sehat dan membukukan laba sehingga masih bisa mendorong kredit," ujarnya, Selasa (25/8/2015).

Dia menuturkan anjloknya IHSG dan nilai tukar rupiah sepanjang hari ini akibat adanya kepanikan pasar yang dolar Amerika Serikat sehingga berdampak pada melemahnya hampir semua mata uang dunia.

Saat ini, lanjutnya, tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia dalam situasi panik. Pasalnya, sulit menempuh kebijakan yang biasa karena saat ini yang dihadapi adalah kepanikan dan low confidence.

"Yang bisa dilakukan yakni Presiden Joko Widodo perlu mengumumkan bahwa pemerintah akan memangkas atau mempertajam prioritas proyek-proyek yang haus devisa," katanya.

Kendati demikian, Tony memprediksi nilai tukar rupiah yang tertekan ini hanya bersifat sementara saja.

"Kondisi fundamental Indonesia sebenarnya tidak sejelek yang terefleksikan pada kurs rupiah saat ini. Dalam jangka menengah, seharusnya rupiah akan menguat sesuai fundamental," ucapnya.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro juga menjamin kondisi perekonomian Indonesia saat ini cukup terkendali.

Pelemahan nilai tukar rupiah saat ini karena pengaruh sentimen perekonomian global. Kurs rupiah yang terus tertekan terhadap dolar AS ini tidak hanya dialami oleh negara Indonesia saja tetapi sejumlah negara pun mengalami hal yang sama.

"Apa saya harus bilang sekarang krisis, terus kita bubar? Nggak. Kondisi ekonomi kita terkendali," ujarnya.

Dia membandingkan kondisi perekonomian saat ini dengan krisis 1998 lalu. Menurutnya, meskipun rupiah sama-sama tertekan, indikator makroekonomi yang lain saat ini masih lebih kuat. 

"Kalau dibanding 1998 berbeda, inflasi dulu itu puluhan persen, kita pertumbuhan ekonomi masih positif, trade balance surplus, current account deficit turun, makro bagus, NPL, CAR, kondisi sehat, ini masih terkendali," kata Bambang.

Dia menambahkan pertumbuhan ekonomi pada saat krisis di 1998 mengalami pertumbuhan minus, yakni minus 14% seperti yang terjadi saat ini di Rusia dan Brasil.

Namun, hal tersebut tidak terjadi di perekonomian Indonesia saat ini karena ekonomi tetap tumbuh walau mengalami perlambatan.

"Transaksi berjalan defisitnya turun, semua kondisi bagus. Belum lagi perbaikan. Semua segala macam masih sehat. Kondisi beda dengan 1998. Kondisi masih terkendali karena lebih besar dibanding global," tuturnya.

Bambang menegaskan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus bersama-sama melakukan antisipasi agar kondisi perekonomian membaik.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah ekonomi indonesia
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top