PERDAGANGAN SATWA LIAR: Target Devisa Ditargetkan Rp5 Triliun

Kendati berupaya mengejar target devisa Rp5 triliun per tahun, pemerintah tidak ingin tanaman dan satwa liar (TSL) Indonesia di alam bebas turun drastis.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 10 Agustus 2015  |  18:36 WIB
PERDAGANGAN SATWA LIAR: Target Devisa Ditargetkan Rp5 Triliun
Sisik Trenggiling - Antara/Jafkhairi

Bisnis.com, JAKARTA – Kendati berupaya mengejar target devisa Rp5 triliun per tahun, pemerintah tidak ingin tanaman dan satwa liar (TSL) Indonesia di alam bebas turun drastis.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Bambang Dahono Adji optimistis target devisa tahunan TSL tercapai dengan cara meningkatkan kontribusi ekspor TSL hasil penangkaran.

“Sekitar 30% ekspor TSL saat ini masih penangkaran sisanya tangkap alam. Untuk apa kita kejar target tinggi tapi nanti keanekaragaman hayati kita habis. Jadi pemerintah pelan-pelan berupaya menggenjot penangkaran,” katanya di Jakarta.

Selama ini, kuota ekspor TSL ditetapkan oleh Kementerian LHK atas rekomendasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang merupakan otoritas ilmiah CITES atau Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora.

Angka kuota diperoleh dari survei populasi yang dilakukan unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian LHK dan masukan dari asosiasi pengusaha TSL.

Bambang mengungkapkan saat ini terdapat 776 perusahaan penangkar TSL di seluruh Indonesia. Langkah mengenjot penangkaran juga dilakukan buat menyiasati larangan CITES untuk mengekspor beberapa TSL yang ditangkap dari alam bebas.

Bambang mencontohkan salah satu satwa yang terkena larangan CITES adalah jalak bali. Kementerian LHK menaksir ada 40 ekor jalak bali berkeliaran di alam liar, sementara jalak bali dari 60 perusahaan penangkaran mencapai ribuan ekor.

“Kami telah meminta CITES untuk merevisi larangan itu dengan membeberkan jumlah jalak bali tangkaran. Sudah dua bulan ini CITES di sini dan semoga hasil evaluasi mereka nanti akan membolehkan ekspor,” katanya.

Menurut Bambang, Indonesia adalah negara penghasil TSL paling penting buat pasar luar negeri. Pasar Eropa dan Amerika Serikat, misalnya, meminati ular piton dan buaya;  Negara-negara Arab dan China getol meminta Gaharu; sementara Jepang adalah target pasar kura-kura.

Kendati begitu, dia menilai Indonesia masih perlu menggencarkan pemasaran di luar negeri agar potensi devisi bisa lebih maksimal. Saat ini, ekspor Indonesia ke sebagian negara tujuan masih transit di Singapura.

“Padahal kalau misalnya langsung ke China nilai ekspor bisa lebih tinggi 30% dibandingkan kalau singgah dulu ke Singapura. Jadi peran diplomasi teman-teman kedutaan sangat penting.”

Sebelumnya, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian LHK Tachrir Fathoni menungkapkan realisasi penerimaan devisa dari ekspor TSL hingga Juli 2015 baru mencapai Rp1,5 triliun atau 30% dari target Rp5 triliun selama tahun ini.

Dia berdalih mengatakan lambatnya pencapaian target karena kementerian baru mulai menetapkan kuota TSL pada April 2015. Pasalnya, selama kuartal I, institusi itu masih disibukkan dengan transisi pascamerger Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, devisa, kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, tanaman dan satwa liar, tsl

Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top