Jabar Masih Andalkan Daging Impor

Dinas Peternakan Jawa Barat masih mendatangkan impor daging sapi untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan hingga Lebaran.
Adi Ginanjar Maulana, Wisnu Wage, Hedi Ardhia | 02 Juni 2015 14:47 WIB

Bisnis.com, BANDUNG--Dinas Peternakan Jawa Barat masih mendatangkan impor daging sapi untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan hingga Lebaran.

Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Jabar Dody Firman Nugraha mengatakan pihaknya akan mengimpor daging sapi yang mencapai 14.902 ton, dengan total kebutuhan 17.863 ton.

"Stok yang tersedia saat ini di tingkat peternak hanya ada 3.247 ton, jika ditambah impor mencapai. Ini berarti masih terdapat surplus 286 ton," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/6).

Dody mengaku tidak menjadi masalah kebutuhan daging sapi tersebut masih mengandalkan impor, karena memang Jabar sendiri masih berkontribusi kecil dalam memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat.

"Tidak masalah jenis sapinya apa, yang penting ketersediaan pasokan daging bagi masyarakat terpenuhi,” katanya.

Meski stok daging melimpah, dipastikan akan ada kenaikan harga di pasaran. Namun, angka kenaikan masih dianggap wajar berkisar 5%-10%.

Dia melanjutkan untuk mengikis impor daging sapi pihaknya terus menggenjot pembibitan sapi pasundan yang asli daerah itu.

Dia menjelaskan sapi pasundan memiliki sejumlah kelebihan pokok di antaranya komposisi daging yang lebih besar daripada tulang, yakni 60:40 dengan berat mencapai 300-350 kg.

“Saat ini populasi sapi pasundan di Jabar mencapai 5.000 ekor yang tersebar di wilayah selatan,” ujarnya.

Sementara itu, pengusaha penggemukan sapi asal Kabupaten Bandung Onyas Suganda menyatakan kebutuhan daging sapi di Jabar selama Ramadan dan Lebaran akan terpenuhi.

Dia mengaku di kandangnya saja, saat ini terdapat 5.200 ekor sapi yang mampu memasok kebutuhan daging bagi beberapa daerah di Jabar.

Apalagi, pemerintah akan melakukan impor sapi dari luar negeri yang diperkirakan melebihi kebutuhan.

"Mendengar kabar dari pemerintah akan menambah kuota impor sapi ini yang akan dilakukan pada Juni ini kami optimistis stok melimpah," katanya.

Menurutnya, saat ini pemerintah lebih selektif dalam mendatangkan sapi impor tersebut yakni sapi yang masuk ke Indonesia harus melalui tes darah di labolatorium Sucofindo.

Soal harga, sapi impor jauh lebih murah ketimbang lokal. Saat ini harga daging sapi hidup lokal sebesar Rp44.000 per kilogram. Sedangkan sapi impor per kilogram daging hidupnya yakni hanya Rp38.000.

"Impor jauh lebih murah, Rp38.000 itu harga sudah di kandang kita. Yah kalau lokal Rp 44.000 itu di tempat asalnya, katanya.

Sekretaris Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau (PPSKI) Jabar Robby Agustiar mengatakan kenaikan harga daging sapi saat Ramadan dan Lebaran dipicu mata rantai daging dari peternak sampai ke tangan konsumen terlalu panjang.

Dia menjelaskan mayoritas peternak kecil menjual sapi dengan alur yang panjang mulai dari perantara, pasar hewan, pedagang besar, rumah pemotongan hewan [RPH], lalu konsumen.

“Mata rantai yang panjang menciptakan harga menjadi mahal. Sehingga tidak heran jika harga sapi di tingkat peternak sangat rendah namun di pasar harga daging sangat melambung tinggi,” katanya.

Robby berharap pemerintah segera memutus mata rantai daging sapi tersebut, bahkan jika memungkinkan penjualan langsung dari peternak kepada penjual.

Tag : ekonomi jabar, daging impor
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top