Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Aspal Buton Mampu Penuhi 360 Tahun Kebutuhan Nasional

Cadangan aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, diproyeksi mampu memenuhi kebutuhan aspal nasional selama 360 tahun.
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Cadangan aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, diproyeksi mampu memenuhi kebutuhan aspal nasional selama 360 tahun.

Gubernur Sulteng Nur Alam mengatakan Pulau Buton menyimpan cadangan aspal alam sebanyak 3,8 miliar ton. Apabila dieksploitasi, nilai ekonominya diproyeksi mencapai Rp2,301 triliun.

"Cadangan bahan baku aspal di Pulau Buton 3,8 miliar ton, bila diesktraksi jadi aspal potensi itu mencapai kurang lebih 767 juta ton atau dapat menyuplai kebutuhan jalan nasional kurang lebih 360 tahun," tuturnya di Kantor Presiden, Selasa (7/4/2015).

Pemenuhan kebutuhan aspal selama 360 tahun, imbuh Nur Alam, diestimasi berdasarkan proyeksi kebutuhan aspal nasional sebesar 2 juta ton/tahun.

"Harga aspal per hari ini itu kurang lebih Rp11 juta/ton. Artinya ada Rp22 triliun APBN untuk beli aspal. Selama ini kita beli aspal cair, kebanyakan impor," katanya.

Selain memenuhi pasar domestik, cadangan aspal Buton juga potensial untuk diekspor dan menambah devisa ekspor nasional.

Menurut Nur Alam, salah satu negara yang potensial dijadikan pangsa pasar ekspor aspal Buton adalah China.

"Contoh di China akan dibangun jalan 8.000 Km dengan kebutuhan aspal 18 juta ton. Harga ekspor aspal di China Rp18 juta/ton. Bila mampu kembangkan aspal dalam negeri ada pangsa pasar yang mungkin jadi segmen ekspor senilai Rp134 triliun," tuturnya.

Namun, pemenuhan kebutuhan aspal lokal dan proyeksi menembus pasar ekspor hanya mampu dilakukan apabila terdapat pengembangan industri pengolahan aspal intensif di Pulau Buton.

Pengembangan tersebut, imbuhnya, menuntut dukungan infrastruktur, seperti jalan, listrik, dan mesin industri.

"Kami mohon dukungan pemerintah dalam hal pengembangan modal untuk pengembangan industri dan teknologi pengolahan aspal alam jadi aspal cair dan juga mengurai jadi minyak bakar dan produk turunan lain yang punya nilai ekonomi cukup tinggi," pungkas Nur Alam. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ana Noviani
Editor : Saeno
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper