Permintaan Lesu, Semen Indonesia Bidik Ekspor

Perusahaan semen plat merah mulai mempertimbangan kemungkinan ekspor jika permintaan semen dalam negeri terus turun atau meleset dari target pertumbuhan penjualan sebesar 4%.
Heri Faisal | 17 Maret 2015 18:00 WIB
Suparni, Direktur Utama PT Semen Indonesia - JIBI/Rahmatullah

Bisnis.com, PADANG—Perusahaan semen plat merah mulai mempertimbangan kemungkinan ekspor jika permintaan semen dalam negeri terus turun atau meleset dari target pertumbuhan penjualan sebesar 4%.

Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) Suparni mengatakan penjualan semen domestik perseroan mengalami penurunan 2 % per Februari 2015 atau hanya 1,922 juta ton dari periode yang sama bulan sebelumnya 1,961 juta ton.

“Sedikit lesu, karena cuaca yang musim penghujan, jadi penjualan turun. Juga karena belanja infrastruktur pemerintah yang belum dimulai,” katanya di Padang, Selasa (17/3).

Suparni mengakui periode awal tahun penjualan semen terbilang lesu mengingat konsumen utama adalah belanja infrastruktur, belum lagi musim hujan yang mempengaruhi rendahnya permintaan.

Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mencatatkan penjualan semen milik pemerintah dari tiga anak perusahaan di dalam negeri itu mengalami penurunan sekitar 40.000 ton lebih di bulan Februari tahun ini.

Penurunan paling tajam dialami PT Semen Padang sebesar 7,4% atau 468.768 ton dari periode yang sama tahun sebelumnya 506.378 ton.

Bahkan sepanjang dua bulan pertama tahun ini penjualan turun 8,7% dari periode yang sama tahun lalu.

Penjualan yang turun juga dialami PT Semen Tonasa 4,8% dari 422.718 ton menjadi hanya 402.523 ton. Sedangkan PT Semen Gresik masih mampu mencatatkan pertumbuhan tipis 1,8% dari 1,032 juta ton menjadi 1,050 juta ton.

Penurunan itu, imbuhnya, sejalan dengan serapan semen dalam negeri yang rendah. Konsumsi di Jawa mengalami penurunan 5,4% atau menjadi 2,33 juta ton dari periode yang sama tahun lalu 2,46 juta ton.

Di Sumatra terjadi penurunan 8,3% dari 963.998 ton menjadi 884.133 ton, Kalimantan turun 4,3%, Sulawesi turun 8,5%, dan Nusa Tenggara turun 8,8%. Hanya Maluku dan Papua yang mampu mencatatkan pertumbuhan 3,3%.

“Trennya begitu, tetapi biasanya di pertengahan tahun sudah mulai tumbuh kembali. Estimasi kami masih bisa tumbuh 4%,” ujarnya.

Dia mengungkapkan jika permintaan semen dalam negeri terus mengalami kelesuan, Semen Indonesia mempertimbangkan kemungkinan ekspor.

Apalagi, sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara dan Asia Selatan masih membuka ruang impor.

Di Myanmar misalnya, negara bekas junta militer itu masih mengimpor semen 4,8 juta ton, Singapura 4,75 juta ton,  Malaysia 3,60 juta ton, Kamboja 1,89 juta ton, Laos 0,90 juta ton, dan Brunei Darussalam 0,28 juta ton.

Selain itu, di kawasan Asia Selatan sejumlah negara seperti Sri Langka, Maladewa, dan Bangladesh masih membuka ruang impor.

“Bulan ini kita [PT Semen Indonesia] ada ekspor 52.155 ton ke Asia Selatan. Pasarnya masih terbuka,” ungkapnya.

Tag : semen indonesia, penjualan semen
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top