Proyek Monorel Bandara-Jakabaring Batal, Pemprov Sumsel Pilih LRT

Pemprov Sumatra Selatan berencana mengganti proyek monorel Bandara Sultan Mahmud Badaruddin IIJakabaring dengan proyek Light Rail Transit (LRT) atau kereta api rel listrik dengan gerbong pendek.
Ringkang Gumiwang | 09 Maret 2015 03:53 WIB

Bisnis.com, PALEMBANG—Pemprov Sumatra Selatan berencana mengganti proyek monorel Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II—Jakabaring dengan proyek Light Rail Transit (LRT) atau kereta api rel listrik dengan gerbong pendek.

Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin menilai pembangunan LRT lebih efektif mengurangi tingkat kemacetan akibat padatnya kendaraan bermotor di Sumatra Selatan ketimbang proyek monorel Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II—Jakabaring.

“Kementerian Perhubungan sangat mendukung. Rencananya, jalur kereta listrik sepanjang 24,5 km itu akan mulai dibangun pada tahun ini. Kami memperkirakan proyek itu rampung sebelum Asian Games 2018 mendatang,” ujarnya, Jumat (6/3/2015).

Alex menambahkan proyek LRT itu akan menggunakan dana kerja sama pemerintah dan swasta (KPS). Namun, pihak swasta menginginkan kompensasi yang lebih besar mengingat biayanya tidak sedikit. Adapun, dana APBN yang akan dialokasikan diperkirakan sebesar Rp550 miliar.

Sekretaris Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumsel Uzirman Irwandi mengatakan pembebasan lahan tidak akan menjadi masalah mengingat lahan untuk proyek LRT sudah disediakan oleh Pemprov Sumsel.

“Rencana mengganti proyek monorel menjadi LRT itu belum final. Hal itu dikarenakan, kami masih menunggu keputusan dari Kementerian Perhubungan, apakah menyetujui proyek monorel atau LTR. Tetapi, kami optimis LTR, karena lebih efektif dan efisien, serta menguntungkan,” tuturnya.

Uzirman mengungkapkan Pemprov Sumsel sudah menyelesaikan Detail Engineering Design (DED), feasibility study, dan penentuan trase-trase yang akan dilewati. Menurutnya, baik trase maupun stasiun pemberhentiannya akan sama seperti rencana monorel.

Dia menilai monorel dan LTR memiliki beberapa kesamaan antara lain menggunakan sumber tenaga listrik, mengurangi kemacetan, dan bisa membawa sampai empat gerbong. Hanya saja, perbedaannya pada pijakan rel.

“Monorel pijakannya tunggal menjepit atau mencengkram rel. Kalau LTR, sama seperti rel kereta api biasa. Jadi kalau listrik mati, penumpang LTR bisa langsung turun dan jalan sampai stasiun terdekat dan sifatnya lebih aman,” katanya.

Sebelumnya, pada awal tahun ini, Pemprov Sumatra Selatan berencana mengubah rencana pembangunan monorel dengan dua koridor menjadi hanya satu koridor karena mempertimbangkan lamanya waktu pengerjaan proyek.

Dinas Perhubungan Sumsel mengungkapkan pengerjaan satu koridor saja memakan waktu hingga 2,5 tahun. Oleh karena itu, pengerjaan satu koridor untuk proyek monorel di Kota Palembang itu terpaksa dilakukan agar dapat digunakan sebelum 2018 mendatang.

Tag : palembang
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top