Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dexa Medica Serius Mengembangkan Produk Bioteknologi

Industri farmasi giat mengembangkan produk bioteknologi yang diproyeksi akan mengalahkan kepopuleran obat modern pada masa mendatang. Sebagai salah satu pemain industri farmasi kelas atas, PT Dexa Medica sudah bersiap mengambil porsi pengembangan tersebut.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 29 Januari 2015  |  23:49 WIB
Foto sebuah kegiatan yang melibatkan DexaMedica.  -
Foto sebuah kegiatan yang melibatkan DexaMedica. -

Bisnis.com, JAKARTA— Industri farmasi giat mengembangkan produk bioteknologi yang diproyeksi akan mengalahkan kepopuleran obat modern pada masa mendatang. Sebagai salah satu pemain industri farmasi kelas atas, PT Dexa Medica sudah bersiap mengambil porsi pengembangan tersebut.

Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) PT Dexa Medica Raymond R. Tjandrawinata mengatakan potensi pasar biokteknologi dan obat berbahan alami mengalahkan obat kimia modern. Hanya saja, hingga saat ini pengembangan produk bioteknologi nasional belum signifikan sehingga konsumsi obat modern masih membumbung tinggi.

Saat ini pasar farmasi nasional berada pada kisaran nilai Rp56 triliun sampai dengan Rp67 triliun. Menurutnya, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengembangkan dan meneliti produk bioteknologi.

“Selama ini segala macam obat yang dihasilkan oleh fasilitas produksi DLBS merupakan hasil riset sendiri dari biodiversitas Indonesia. Kedepannya, herbal dan bioteknologi menjadi unggulan dan diharapkan mampu berkontribusi banyak untuk penjualan perusahaan,” katanya di sela sela Penandatangan Kerja Sama PT Dexa Medica dan Kementerian Ristek Dikti tentang Hilirisasi dan Peningkatan SDM Riset , Kamis (29/1/2015).

Produk bioteknologi nantinya akan menghasilkan produk yang lebih bersifat protein, seperti yang dihasilkan dari cacing tanah.

Saat ini ada empat produk bioteknologi yang sedang diteliti seperti obat trombosis, anti diabetes, sistem imun, obat untuk fungsi hati. Untuk jajaran produk herbal sedang diteliti a.l obat demam berdarah, memperbaiki pembengkakan prostat, fungsi hati.

Setiap tahunnya, Dexa Medica pertumbuhan anggaran riset untuk melahirkan produk baru sebesar 25%. Tahun ini saja, Raymond memperkirakan anggaran risetnya menembus Rp150 miliar dan akan terus menyesuaikan kebutuhan perusahaan untuk mendapatkan produk terbaru.

Dalam mengembangkan produk berbahan alam, Dexa Medica telah mendapatkan lisensi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik – Industri Ekstrak Bahan Alam (CPOTB-IEBA) dan memenuhi persyaratan internasional lainnya, seperti ISO 22000:2005 dan HACCP.

Fasilitas produksi DLBS sendiri telah memalui proses tervalidasi dalam sertifikasi oleh Sistem Jaminan Halal dengan nilai A. Assosation for Assessment and Accreditation of Laboratory Animal Care (AAALAC) International.

Raymond menambahkan, perusahaan tidak ragu untuk mengembangkan produk bioteknologi dan herbal mengingat periset yang dimiliki DLBS telah mempelajari kandidat bahan aktif obat herbal dari aspek kimia dan biologi pada tingkat molecular memalui sebuh proses yang disebut TCEBS.

“Tandem Chemistry Expression Bioassay System merupakan suatu metodologi penyaringan sistematis untuk menemukan kandidat yang paling aktif dan berpotensi untuk produk yang telah diteliti, diikuti bioassay system yang memanfatkan ekspresi gen dan protein array,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mengatakan pihaknya akan mengajukan insentif kepada Kementerian Keuangan untuk perusahaan yang telah berkontribusi besar dalam pengembangan penelitian dalam aktivitas industrinya.

“Tentu bangga kalau bahan alam kita bisa mendunia, Dexa Medica menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati kita mampu menjadi bagian dari industri. Saya akan memohon Menteri Keuangan untuk memberikan insentif pajak penelitian, mengenai besarannya kita lihat nanti,” katanya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bioteknologi
Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top