Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Strategi PTPN X Kurangi Ketergantungan pada Binsis Gula

Perusahaan perkebunan di Jawa Timur tengah fokus pada upaya diversifikasi usaha, untuk memaksimalkan margin laba. Trik tersebut juga dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X).
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 28 Januari 2015  |  14:43 WIB
Di Brasil, India, atau Thailand, pabrik gula sudah banyak meraih pendapatan dari penjualan bioetanol, listrik, dan produk turunan lain.  - Bisnis.com
Di Brasil, India, atau Thailand, pabrik gula sudah banyak meraih pendapatan dari penjualan bioetanol, listrik, dan produk turunan lain. - Bisnis.com

Bisnis.com, MALANG – Perusahaan perkebunan di Jawa Timur tengah fokus pada upaya diversifikasi usaha, untuk memaksimalkan margin laba. Trik tersebut juga dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X).

Dirut PTPN X Subiyono menjelaskan pada 2015, perusahaannya akan menggenjot diversifikasi usaha, selain melanjutkan revitalisasi pabrik gula dan mekanisasi budi daya tebu.

“Selain memproduksi gula, PTPN X selama ini telah menjual bioetanol yang dihasilkan dari pengolahan limbah cair alias tetes tebu (molasses),” ujarnya di Malang, Rabu (28/1/2015).

Tahun ini, PTPN X akan menuntaskan program co-generation yang memproduksi listrik dari limbah padat atau ampas tebu di sejumlah pabrik gula miliknya.

Di antaranya di PG Ngadiredjo (Kediri) sebesar 10 MW. ”Saat ini sudah tahap finalisasi kerja sama dengan salah satu perusahaan untuk produksi dan penjualan listrik dari PG Ngadiredjo,” kata Subiyono.

Setelah PG Ngadiredjo, produksi listrik dari ampas tebu sedang disiapkan di PG Pesantren Baru (Kediri), PG Kremboong (Sidoarjo), dan PG Gempolkrep (Mojokerto). ”Kami sedang mematangkannya dan melobi pihak terkait untuk menyukseskan program ini,” ujar Subiyono.

Dia optimistis program diversifikasi bisa memberikan tambahan pendapatan untuk pabrik gula, sehingga ke depan sandaran pendapatan tak lagi bertumpu pada penjualan gula.

”Potensi pendapatannya bisa ratusan miliar. Perhitungannya, investasi di program diversifikasi produksi listrik itu membutuhkan waktu 4 tahun untuk break event point,” ujarnya.

Dia menambahkan situasi dua tahun terakhir ini seharusnya membuka mata semua pihak bahwa gula tak bisa lagi jadi sandaran utama keberlangsungan pabrik-pabrik yang ada.

”Di Brasil, India, atau Thailand, pabrik gula sudah banyak meraih pendapatan dari penjualan bioetanol, listrik, dan produk turunan lain. Jadi mereka tidak galau saat harga gula turun,” pungkas Subiyono.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ptpn x gula
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top