Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

SIDANG RSPO KE 12: Industri CPO Indonesia Siap Patuhi Aturan Baru

Industri minyak kelapa sawit Indonesia siap memenuhi tuntutan penerapan aturan High Conservation Values Forest (HCVF) dan High Carbon Stock (HCS) serta isu baru lainnya yang akan diterbitkan RSPO maupun ISPO pada akhir tahun ini.

Bisnis.com, KUALA LUMPUR--Industri minyak kelapa sawit Indonesia siap memenuhi tuntutan penerapan aturan High Conservation Values Forest (HCVF) dan High Carbon Stock (HCS) serta isu baru lainnya yang akan diterbitkan RSPO maupun ISPO pada akhir tahun ini.

Studi tentang HCVF dan HCS yang dilakukan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bersama Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) disebutkan telah rampung dan akan segera diluncurkan kepada anggota dalam penerapan industri sawit yang lestari dan berkelanjutan.

"Kalau terkait ISPO memang mandatory untuk dipatuhi sedangkan menyangkut RSPO itu memang maunya pasar," tutur Edi Suhardi, anggota Board of Governor RSPO dari unsur Indonesian Grower di sela pertemuan tahunan RSPO ke-12 di Kuala Lumpur, Selasa (18/11/2014)

Prinsip dan aturan baru dalam pengelolaan industri sawit tersebut, lanjutnya, bisa dipahami sebagai isu yang banyak dibicarakan dan tuntutan pasar.

"Kami siap memenuhinya," ujar Edi yang merupakan Vice President RSPO mewakili perusahaan-perusahaan besar kelapa sawit di Indonesia.

Asalkan saja, lanjut dia, penerapan HCS dan HCVF yang diadopsi oleh ISPO harus pula diikuti dengan sejumlah perubahan ketentuan dan kebijakan menyangkut peruntukan lahan dan penyesuaian tata ruang.

Jika disimak, penerapan prinsip baru yang memperketat pemanfaatan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan kepentingan lainnya tersebut berpotensi merugikan kalangan produsen crude palm oil (CPO).

Ada kekhawatiran berkurangnya luas kebun sawit akibat penerapan prinsip dan aturan HCS atau HCVF. Kompetisi terhadap lahan semakin ketat, potential loss atas lahan yang dikuasai, dan sebagainya.

"Namun kami ikhlas saja APL atau lahan bersangkutan dikembalikan kepada pemerintah," kata Edi.

Isu baru di atas, lanjutnya, memang pula tak bisa dihindari sebagai tekanan pasar terhadap pengelolaan industri sawit yang lestari dan berkelanjutan.

Karena itu, menurut dia, penting untuk mengubah persepsi bahwa tuntutan tersebut sebagai cost menjadi kesadaran untuk menerapkan pengelolaan industri CPO yang sustainable.

"Jadi jika dahulu tuntutan tersebut dipandang sebagai fear factor maka sekarang harus menjadi feel good factor sebagai kesadaran untuk keberlangsungan bersama."   

Bahkan, menurut Edi, penerapan prinsip-prinsip baru yang sejalan dengan tuntutan pasar akan memberi nilai tambah lebih besar bagi perusahaan yang akan meningkatkan kredibilitas investor di pasar saham sekaligus perbaikan agrikultur secara keseluruhan.

"Ikut RSPO bukan semata mengejar harga 'premium 'di pasaran CPO tetapi sekarang juga untuk meningkatkan kredibilitas investor itu sendiri."


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rustam Agus
Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper