Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TRANSFORMASI PTPN X: Siasat Ketika Tebu Tak Lagi Manis

Di sisi produksi, kata dia, industri gula sangat bergantung pada kualitas tebu yang masuk ke pabrik. Bila rendemen tebu tinggi maka perseroan bisa merasakan manisnya industri ini.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 06 Juli 2014  |  22:00 WIB
TRANSFORMASI PTPN X: Siasat Ketika Tebu Tak Lagi Manis
Cetak biru transformasi bisnis PTPN X itu memang memiliki sejumlah syarat pendukung. - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Nada suara Subiyono, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara X, bergetar saat bercerita tantangan industri gula. Sebab sektor ini sedang dirundung sejumlah persoalan, baik dari kualitas pasokan, inefisiensi produksi hingga penyerapan pasar.

Di sisi produksi, kata dia, industri gula sangat bergantung pada kualitas tebu yang masuk ke pabrik. Bila rendemen tebu tinggi maka perseroan bisa merasakan manisnya industri ini.

Akan tetapi bila kondisi sebaliknya terjadi, maka rugi tak jarang harus ditanggung pabrik gula. “Jadi tuntutannya memang efisiensi,” jelasnya soal tantangan industri gula, pekan lalu. 

Efisiensi juga mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Setidaknya itu terjadi ketika PTPN X ingin meningkatkan efisiensi dengan memanfaatkan tetes tebu alias molasses.

Pada 2013 lalu perseroan mendirikan pabrik pengolahan tetes tebu menjadi bioetanol di Mojokerto. Pertimbangannya kebutuhan akan bahan bakar terbarukan tinggi.

Namun itungan tersebut tak seluruhnya benar. Pasalnya, saat pabrik beroperasi akhir 2013, sejumlah kendala mengadang. Salah satu utamanya pasar tak segera merespons produk tersebut.

Alhasil hingga Juni tangki penyimpanan di pabrik senilai Rp461 miliar penuh. Ada sekitar 1.600 kiloliter bioetanol berstandar bahan bakar tak terjual, terkendala sejumlah persoalan, di antaranya komitmen penyerapan di jajaran pemerintahan.

Soal inilah yang menjadikan Subiyono sedikit emosional, tercermin dari nada suaranya yang bergetar. “Kami bangun pabrik ini karena idealisme, menjawab kebutuhan energi terbarukan. Tapi tekanan dari kiri-kanan berat,” tegasnya.

Menurutnya, bila hanya berfikiran untung bisa saja PTPN X melepas pabrik bioetanol bernama PT Energi Agro Nusantara itu. Sejumlah investor asing sudah bersedia mengambil alih. “Tapi kami malah siap mendirikan pabrik-pabrik biotenol standar bahan bakar lain, tenaga kami pengalaman,” tegasnya seolah menjawab keraguannya sendiri.

Hitungan di atas kertas, potensi pengembangan pabrik bioetanol di PTPN X cukup besar. Sekretaris Perusahaan PTPN X M. Cholidi menguraikan berkaca pada industri gula di Brasil, produksi bioetanol bisa menyumbang 45%-55% pendapatan perseroan.

“Kalau rendemen rendah maka kami bisa saja tebu tidak dijadikan gula, tapi diolah menjadi bioetanol,” urainya soal potensi pengembangan bisnis perseroan. 

Dari 11 pabrik gula milik PTPN X dihasilkan 335.000 ton tetes tebu setiap tahun. Dari jumlah tersebut 125.000 ton merupakan milik perseroan sehingga siap diolah menjadi bioetanol.

“Kalau bangun 2 atau 3 pabrik bioetanol lagi maka bisa saja tetes tebu milik petani dibeli sebagai bahan baku,” jelasnya menggambarkan potensi pemanfaatan produk sampingan pengolahan tebu tersebut.

Tak hanya mengolah tetes tebu, Cholidi menuturkan perseroan juga akan memproduksi listrik. Terlebih setiap tahun ada 120.000 ton ampas tebu dihasilkan perseroan. Ampas itulah yang akan dibakar guna menggerakkan turbin tenaga panas yang bisa menghasilkan listrik.

Pembangkit listrik tenaga panas yang berasal dari ampas tebu sebenarnya sudah dibangun di Pabrik Gula Ngadirejo, Kediri. Hanya saja pembangkit berkapasitas 1 MW itu belum bisa beroperasi sepanjang tahun.

Listrik dari instalasi yang dipasang tahun lalu itu hanya dihasilkan ketika musim giling. Di luar musim giling pembangkit tidak berproduksi. Sementara agar bisa dijual, Perusahaan Listrik Negara (PLN) meminta listrik berproduksi setahun penuh.

“Kami sedang kaji bisa menghasilkan listrik sepanjang tahun sekaligus menjawab tantangan PLN yang bersedia membeli sisa dayanya,” paparnya. 

Menurutnya, bila pengembangan bisnis bioetanol dan pembangkit listrik berjalan lancar maka masa depan industri gula tak seseram dibayangkan. Sebab kalau tidak merasakan manisnya gula, bisnis perseroan tetap “membara” terbakar bioetanol sekaligus disengat listrik. 

Tapi cetak biru transformasi bisnis PTPN X itu memang memiliki sejumlah syarat pendukung. Subiyono menggambarkan semua itu akan sangat bergantung bagaimana pemimpin ke depan berkomitmen mendorong energi terbarukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ptpn x
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top