Jelang MEA 2015, Tiga Jurus Plus Sektor Perkebunan Disiapkan

Pemerintah bersiap melancarkan 3 jurus plus demi mempersiapkan pelaku usaha sektor perkebunan agar siap bersaing dengan negara kompetitor menjelang dibukanya pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.
Arys Aditya | 02 April 2014 19:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah bersiap melancarkan 3 jurus plus demi mempersiapkan pelaku usaha sektor perkebunan agar siap bersaing dengan negara kompetitor menjelang dibukanya pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.

Strategi ini dibutuhkan mengingat areal lahan perkebunan yang sangat luas. Sampai tahun 2013, Kementerian Pertanian mencatat luas areal tanaman perkebunan mencapai 23,47 juta ha, yang mayoritas dimiliki petani kecil.

Dari berbagai sumber, Bisnis mencatat bahwa laju pertumbuhan produksi tanaman kunci sektor perkebunan memang bermasalah.

Contohnya produksi karet, hanya mencapai 3,10 juta ton pada 2013, atau hanya menunjukkan pertumbuhan produksi sebesar 3,16% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang menembus 3,01 juta ton.

Teh juga mengalami nasib serupa, yaitu hanya tumbuh 0,76% dari 145.575 ton pada 2012 menjadi 146.682 ton pada 2013. Lebih parah lagi adalah kopi, yang mengalami penurunan produksi sekitar 22.099 ton atau setara 3,2%, dari 691.163 ton pada 2012 menjadi 669.064 ton tahun lalu. 

Tebu juga mengalami penurunan produksi dari 2,59 juta ton pada 2012 menjadi 2,55 juta ton pada tahun lalu.

Hanya dua komoditas perkebunan yang mencetak pertumbuhan produksi signifikan, yaitu kakao yaitu 5%, atau 777.539 ton pada 2013 dari tahun sebelumnya yaitu 740.513 ton dan 6,55% untuk kelapa sawit.

Dirjen Perkebunan Gamal Nasir mengatakan, ketiga jurus itu adalah replanting (penanaman kembali), pemangkasan rantai tata-niaga dan pemupukan.  

“Strategi pertama menghadapi MEA 2015 ya replanting. Sebab, produktivitas kebun rakyat kan terus menurun, karena sebagian besar umurnya rata-rata sudah tua,” katanya, Selasa (2/4).

Gamal menjelaskan, pihaknya masih mencari strategi replanting yang paling pas dan efisien. Sebab, katanya, cara replanting yang paling efisien sangat dibutuhkan karena menyangkut luas kebun rakyat mencapai lebih dari 22 juta ha.

Untuk itu, ungkapnya, kementerian terus mendorong agar perusahaan besar di subsektor yang sama untuk membangun kooperasi dan kemitraan dengan petani di sekitar areal izin perseroan demi mendongkrak produktivitas nasional.

Jurus kedua, kata Gamal, adalah memangkas rantai tata-niaga.

Dia menuturkan bahwa pemangkasan tata-niaga komoditas perkebunan akan berdampak signifikan bagi peningkatan nilai tambah bagi petani, yang secara tidak langsung akan meningkatkan produksi perkebunan nasional.

Berikutnya, tambahnya, adalah pemupukan. Gamal menyebutkan bahwa tiap tahun pihaknya selalu mengajukan dan mendapatkan subsidi, namun, dirinya masih dipusingkan dengan pengaturan sebagian tidak betul-betul tepat dan mengena kepada petani.

Dia menggambarkan, hal tersebut terlihat sekali terutama di 3 subsektor perkebunan yang areal kepemilikan lahannya nyaris seluruhnya dimiliki oleh petani kecil, yaitu kopi, kakao dan karet.

Di sisi lain, seperti tertuang di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014, alokasi subisidi pupuk untuk seluruh komoditas pertanian dan perkebunan yang disetujui hanya Rp21 triliun, sementara subsidi benih Rp1,6 triliun.

Gamal menambahkan, jurus plus yaitu menggencarkan pembinaan kepada petani, seperti perawatan tanaman dan lahan melalui penyuluhan. Dia memperkirakan apabila hal ini telah dapat dilaksanakan, maka produktivitas areal lebih efisien. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perkebunan, mea 2015

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top