Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga BBG Bakal Naik Dari Rp3.100 Per Kilogram

Kenaikan harga bahan bakar gas (BBG) dari Rp3.100 per liter nampaknya tinggal menunggu waktu. Seruan untuk menaikkan bahan bakar itu terus berlanjut. Bahkan pemerintah sudah mempertimbangkan untuk menaikkan harga bahan bakar gas (BBG) yang kini Rp3.100 per liter, sebagai upaya mempercepat pemanfaatan energi alternatif tersebut.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 28 Maret 2014  |  11:24 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar gas (BBG) dari Rp3.100 per liter nampaknya tinggal menunggu waktu. Seruan untuk menaikkan bahan bakar itu terus berlanjut. Bahkan pemerintah sudah mempertimbangkan untuk menaikkan harga bahan bakar gas (BBG) yang kini Rp3.100 per liter, sebagai upaya mempercepat pemanfaatan energi alternatif tersebut.

Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo pihaknya bersama Bappenas sedang menghitung besaran kenaikan harga bahan bakar gas (BBG) yang tepat.

"Harga BBG tentunya harus menarik. Sedang dihitung bersama Bappenas berapa harga yang pas," katanya dalam forum bisnis gas di Jakarta, Jumat (28/3/2014). Kendati dia belum mau menyebutkan kisaran kenaikan harganya.

Hanya saja, menurut dia, prinsipnya harga BBG haruslah lebih kompetitif dibandingkan dengan premium, sehingga konsumen tertarik menggunakannya.

Secara umum, harga BBG mestinya 65%-70%  harga bahan bakar minyak (BBM) agar pemakai kendaraan bisa berhemat.

Kalau harga premium subsidi sebesar Rp6.500 per liter, maka harga BBG berkisar antara Rp4.225-Rp4.550 per liter setara premium (LSP).

Di sisi lain, lanjutnya, ketersediaan stasiun pengisisan bahan bakar gas (SPBG) mesti tercukupi.

Ia mengatakan, pemerintah meminta pengusaha SPBU juga menyediakan dispenser BBG.

"Kalau SPBU ada kelebihan tanah, maka bisa dimanfaatkan untuk BBG. Ini mengurangi kendala lahan," katanya.

Susilo juga menambahkan, pemerintah tengah menyusun surat keputusan bersama (SKB) sejumlah menteri yang mewajibkan kendaraan memakai dua bahan bakar yakni BBM dan BBG. "Mudah-mudahan SKB bisa keluar tahun ini," katanya.

Menurut dia, paling tidak pabrikan kendaraan diberi batas waktu maksimal dua tahun untuk memproduksi mobil dengan bahan bakar ganda.

Menteri yang terlibat dalam SKB antara lain ESDM, perindustrian, perhubungan, dan keuangan.

Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Konversi BBM ke BBG Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja mengatakan, dengan harga BBG Rp3.100 per LSP, marjin pengusaha SPBG memang tidak mencukupi.

"Kami akan bicarakan lagi dengan Bappenas pada Selasa (1/4) pekan depan," katanya.

Untuk SKB, menurut dia, pengusaha membutuhkan insentif untuk memenuhi kewajiban bahan bakar ganda itu.

Insentif yang tengah dipikirkan adalah pembebasan pajak pertambahan nilai barang mewah seperti mobil murah, sehingga harga kendaraan berbahan bakar ganda sama dengan hanya memakai BBM.

Ia juga mengatakan, mandatori bahan bakar ganda bisa dimulai dengan kendaraan jenis taksi dan angkutan umum.

Harga BBG sebesar Rp3.100 per LSP ditetapkan melalui peraturan menteri ESDM pada 2010 saat harga premium subsidi hanya Rp4.500 per liter. Pemerintah mengakui harga tersebut sudah tidak ekonomis lagi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bbg

Sumber : Antara

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top