Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asumsi Lifting Minyak Meleset, Negara Bakal Kehilangan Rp5 triliun

  Bisnis.com, JAKARTA—Negara bakal kehilangan penerimaan negara dari minyak bumi di kisaran Rp3 triliun—Rp5 triliun hingga akhir tahun ini, apabila produksi jual minyak bumi (lifting) masih 829.000 barel per hari, atau 98,7% dari target
Ringkang Gumiwang
Ringkang Gumiwang - Bisnis.com 11 Oktober 2013  |  17:33 WIB
Asumsi Lifting Minyak Meleset, Negara Bakal Kehilangan  Rp5 triliun
Bagikan

 
Bisnis.com, JAKARTA—Negara bakal kehilangan penerimaan negara dari minyak bumi di kisaran Rp3 triliun—Rp5 triliun hingga akhir tahun ini, apabila produksi jual minyak bumi (lifting) masih 829.000 barel per hari, atau 98,7% dari target APBN-Perubahan 2013.
 
“Potensial loss-nya sekitar Rp3 triliun—Rp5 triliun. Namun ini belum tentu mempengaruhi ke anggaran subsidi atau APBN kita,” ujar Askolani, Plt Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, saat ditemui usai rapat di gedung DPR, Kamis (10/10/2013).
 
Tidak tercapainya asumsi lifting 840.000 barel per hari, lanjutnya, hanya akan berdampak terhadap penerimaan negara dari ekspor minyak. Oleh karena itu, tidak akan mengganggu kebutuhan bahan bakar minyak di dalam negeri.
 
Askolani juga mengungkapkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) biasanya akan menggenjot produksi pada akhir tahun ini. Kendati demikian, lanjutnya, target tersebut diperkirakan bisa saja tidak tercapai.
 
Berdasarkan data Direktorat Pengelolaan Kas Negara, penerimaan negara bukan pajak dari sumber daya alam migas sebesar Rp120,6 triliun hingga kuartal III/2013, atau 66,8% dari target APBNP 2013 sebesar Rp180,6 triliun.
 
Di tempat yang sama, Satya Yudha, anggota Komisi VII DPR mengatakan SKK Migas seharusnya memasukkan indikator-indikator yang mengganggu produksi minyak dalam bagian perencanaan SKK Migas atau disebut dengan plan shutdown.
 
“Dengan masuknya indikator tersebut dalam plan shutdown, maka hal-hal yang dapat mengganggu produksi misalnya kerusakan pipa atau lain sebagainya bisa terkontrol. Sebelumnya, kami sudah memberikan masukan ke pemerintah soal ini,” katanya.
 
Dia menilai, perencanaan terhadap indikator tersebut sangat penting agar pencapaian target lifting minyak bumi tidak terus-menerus meleset dari target. Satya mengaku jika kesepakatan target lifting minyak bumi dalam APBNP 2013 tersebut merupakan target yang paling rendah.
 
“Target produksi jual di level 800.000-an ini paling rendah dibandingkan dengan lima tahun terakhir, namun SKK Migas masih saja kesulitan untuk mencapai target tersebut. SKK Migas harus pandai, karena pekerjaan ini memang susah,” tegasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak negara penerimaan lifhting
Editor : Ismail Fahmi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top