Ginsi Tuding Biaya di Depo Empty, Tergolong Liar

Bisnis.com, JAKARTA: Importir menunding  biaya dan komponen tarif pelayanan pada depo peti kemas kosong yang berada di luar Pelabuhan Tanjung Priok tergolong tarif liar sebab tidak pernah disosialisasikan kepada pelaku usaha dan asosiasi terkait
Akhmad Mabrori
Akhmad Mabrori - Bisnis.com 02 Oktober 2013  |  19:12 WIB

Bisnis.com, JAKARTA: Importir menunding  biaya dan komponen tarif pelayanan pada depo peti kemas kosong yang berada di luar Pelabuhan Tanjung Priok tergolong tarif liar sebab tidak pernah disosialisasikan kepada pelaku usaha dan asosiasi terkait di Pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Sekjen BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) Achmad Ridwan Tento, mengatakan hingga kini asosiasinya belum pernah menyepakati besaran maupun komponen tarif pelayanan di depo empty itu, termasuk soal tarif jika ada kerusakan kontainer atau repair.

“Ginsi belum pernah di ajak bicara soal tarif itu. Jadi jika pihak pengelola depo empty mengklaim sudah mendapat persetujuan dan membicarakannya dengan asosiasi terkait, itu asosiasi yang mana?.Ini saya angap tarif liar,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini, Rabu (2/10/2013).

Ridwan mengatakan, semestinya semua tarif jasa kepelabuhanan dan pendukung kegiatannya mesti di lakukan pembahasan terlebih dahulu kemudian disepakati oleh asosiasi penyedia dan pengguna jasa di pelabuhan tersebut yang diakui pemerintah melalui peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Dia mengatakan, pemilik barang selalu berada pada pihak yang dirugikan atas ketidakjelasan tarif  di depo empty yang banyak beroperasi di luarr pelabuhan Priok tersebut. “Apalagi ada istilah jaminan biaya repair kontainer eksimpor, ini dasarnya dari mana?,”paparnya.

Ginsi, kata Ridwan, mengharapkan pemerintah bisa melalui Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dapat melakukan langkah konkret untuk menertibkan tarif di depo empty tersebut untuk memberikan kepastian biaya logsitik dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

“Kami hanya ingin ditertibkan sehingga tidak ada lagi tarif liar tanpa landasan hukum,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Asosiasi Depo Kontener Indonesia (Asdeki) Muslan AR, mengatakan biaya layanan di depo empty tersebut sudah di atur melalui kesepakatan asosiasi pengguna dan penyedia jasa terkait  dengan  komponen biaya repair sebesar Rp.200.000 untuk kontener ukuruan 20 kaki dan Rp.400.000 untuk kontener 40 kaki.

Adapun untuk biaya pencucian kontener ukuran 20 kaki dikenakan Rp.55.000/bok dan untuk ukuran 40 kaki Rp.110.000/bok. Adapun biaya menurunkan kontener  di depo empty dikenakan biaya Rp.175.000 untuk ukuran 20 kaki dan Rp.275.000 untuk ukuran 40 kaki.

Dia mengatakan, selama ini pihak depo empty yang menjadi mitra shipping line dalam menangani kontener eks impor tersebut  hanya bisa menagihkan biaya repair kontener jika terbukti terjadi kerusakan kontener, ditambah biaya pencucian kontener dan menurunkan kontener.

Gemilang Tarigan, Ketua Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) Organda DKI Jakarta, justru menyoroti prilaku depo empty yang belum beroperasi 24 jam sehari dalam mendukung kegiatan ekspor impor dari dan ke pelabuhan Priok.

“Masih banyak depo yang tidak buka 24 jam dan ini sangat menghambat kegiatan distribusi karena pengembalian dan pengambilan kontainer empty untuk ekspor impor menjadi tidak tepat waktu,” tuturnya. Gemilang berharap semua pelaku bisnis pelabuhan berkomitmen dalam mendukung program pelayanan 24 jam tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peti kemas, ginsi

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top