Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Modal Pembangunan, DEN Minta Ekspor Gas dan Batu Bara Dikurangi

Bisnis.com, JAKARTA - Dewan Energi Nasional (DEN) meminta Pemerintah segera mengurangi ekspor gas bumi dan batu bara dan mengalihkannya ke pasar domestik untuk kepentingan pembangunan nasional.
Lili Sunardi
Lili Sunardi - Bisnis.com 11 Juli 2013  |  18:42 WIB
Modal Pembangunan, DEN Minta Ekspor Gas dan Batu Bara Dikurangi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Dewan Energi Nasional (DEN) meminta Pemerintah segera mengurangi ekspor gas bumi dan batu bara dan mengalihkannya ke pasar domestik untuk kepentingan pembangunan nasional.

Herman Darnel Ibrahim, anggota DEN mengatakan seharusnya Pemerintah mulai mengubah pandangannya terhadap gas bumi dan batu bara. Kedua komoditas itu seharusnya tidak lagi dianggap sebagai sumber penerimaan negara, melainkan modal pembangunan nasional.

"Pengurangan ekspor ini harus tetap dilakukan secara bertahap agar tidak terkena sanksi dari negara tujuan ekspor gas bumi dan batu bara dari dalam negeri," katanya di Jakarta, Kamis (11/7/2013).

Herman mengungkapkan ekspor gas bumi dan batu bara yang berlangsung secara masif beberapa tahun belakangan telah mengancam ketahanan energi nasional. Padahal, Pemerintah seharusnya menjaga jaminan pasokan kedua komoditas itu untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan energi.

Saat ini, lanjut Herman, DEN telah menyelesaikan rancangan Kebijakan Energi Nasional (RKEN) yang memuat arah kebijakan energi hingga 2050. Di dalamnya, DEN mengamanatkan perubahan pengelolaan energi fosil yang selama ini diperlakukan sebagai komoditas menjadi modal pembangunan nasional.

Perubahan tersebut menempatkan energi fosil sebagai aset jangka panjang bagi ketahanan ekonomi, sosial, dan politik negara. "Memang masih ada keterbatasan infrastruktur seperti pembangkit listrik, jaringan distribusi gas, kilang, dan terminal penerima gas merupakan tantangan yang harus diselesaikan," ujarnya.

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Qoyum Tjandranegara mengatakan kebijakan ekspor gas sebenarnya telah merugikan negara. Selama ini Indonesia mengekspor gas dengan harga setara BBM Rp4500 per liter, sementara mengimpor BBM Rp9.000 per liter.

Menurutnya, pada 2012 saja negara telah mengalami kerugian sekitar Rp200 triliun dari ekspor gas.

Sementara itu, Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johanes Widjonarko mengatakan penyerapan gas di dalam negeri masih terkendala infrastruktur dan harga. "Gas di Jatim ada 50 TCF [triliun kaki kubik], tapi tidak terserap karena keterbatasan infrastruktur," tuturnya.

Sesuai RKEN, target bauran energi nasional pada 2025 adalah minyak 25%, batubara 30%, gas 22%, dan energi baru terbarukan (EBT) 23%. Kemudian pada 2030 menjadi minyak sebanyak 22%, batubara 30%, gas 23%, dan EBT 25%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara modal devisa ekspor gas den
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top