INDUSTRI KECIL MENENGAH: Kemenperin Optimistis Mampu Tumbuh 7%

BISNIS.COM, JAKARTA--Meski data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kinerja industri kecil dan menengah (IKM) sepanjang kuartal I/2013 tidak memenuhi target, yakni hanya 4,84%, Kementerian Perindustrian optimistis pada kuartal II/2013, pertumbuhan
Febrany D. A. Putri | 20 Mei 2013 17:21 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA--Meski data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kinerja industri kecil dan menengah (IKM) sepanjang kuartal I/2013 tidak memenuhi target, yakni hanya 4,84%, Kementerian Perindustrian optimistis pada kuartal II/2013, pertumbuhan akan mencapai target yakni 7%.

Direktur Jenderal IKM Kemenperin Euis Saedah bahkan menyebutkan pada kuartal I/2013 pertumbuhan sudah mencapai target yakni 7%. Euis mengatakan basis pertumbuhan data BPS adalah tenaga kerja, sedangkan pihaknya memasukkan investasi sebagai bagian dari pertumbuhan.

"Tolak ukurnya berbeda, jadi hasilnya juga sudah pasti berbeda," ujar Euis, Senin (20/5/2013).

Euis menambahkan, saat ini pihaknya tengah melakukan penghitungan pertumbuhan sendiri. Namun, Euis mengakui kendala besar dalam melakukan penghitungan yakni ketidakpastian data pelaku IKM.

Menurutnya, IKM banyak kedatangan pelaku baru, tapi umumnya hanya bertahan 1 tahun hingga 2 tahun.

"Mau menghitung pertumbuhan, pelaku bertambah, tapi yang berhenti susah didata," tutur Euis.
 
Euis menargetkan pertumbuhan IKM pada kuartal II/2013 melebihi target sepanjang tahun ini yakni di atas 7%.

Penopang pertumbuhan yakni industri pakaian jadi atau fesyen dan makanan. Pasalnya, sepanjang tahun ini promosi fesyen akan meningkat.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan IKM pada kuartal I/2013, ditopang beberapa jenis IKM, seperti komputer, barang elektronik dan optik sebesar 28,54%, logam dasar 20,36%, kulit, barang dari kulit, dan alas kaki 15,98%.

Selanjutnya makanan 10,76%, dan minuman 9,41%. Jika dibandingkan dengan kuartal IV/2012, maka pada kuartal I/2013, IKM tumbuh 1,74%.

Terkait rencana kenaikan harga BBM dari pemerintah, Euis menuturkan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap ongkos produksi IKM.

Pasalnya, BBM hanya bahan penunjang seperti ongkos transportasi. Adapun, kenaikan harga BBM hanya akan meningkatkan ongkos produksi IKM sebesar 5% sampai 10%.

Namun, hingga saat ini Euis mengaku belum mendapatkan keluhan dari pelaku IKM. Untuk antisipasi keluhan, Euis akan memberikan opsi kepada pengusaha untuk menggunakan kendaraan plat kuning.  (ra)

 

Tag : ikm, kemenperin, euis saedah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top