Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BBM BERSUBSIDI: Jangan Kelamaan, Kenaikan Harga Maksimal Akhir Mei

BISNIS.COM,JAKARTA – Keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) seharusnya dipercepat agar masyarakat dapat mempersiapkan diri pada pertengahan tahun menghadapi inflasi, akibat kenaikan harga barang saat puasa.Batas waktu yang dimiliki

BISNIS.COM,JAKARTA – Keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) seharusnya dipercepat agar masyarakat dapat mempersiapkan diri pada pertengahan tahun menghadapi inflasi, akibat kenaikan harga barang saat puasa.

Batas waktu yang dimiliki pemerintah untuk mengumumkan kenaikan ini sangat singkat. Maksimal akhir Mei tahun ini, pemerintah harus segera memutuskan untuk menaikkan harga BBM.

Keadaan ini terkait dengan inflasi yang akan terjadi saat puasa pada pertengahan tahun ini. Tanpa ada kenaikan BBM pun, setiap akan puasa akan terjadi lonjakan harga. Jika harga BBM tidak segera ditetapkan, hal ini akan sangat memberatkan.

"Pemerintah harus cepat. Sekitar Juni atau Juli sudah memasuki puasa. Maksimal  pemerintah harus mengumumkan akhir Mei," ujar Sri Adiningsih, Direktur Penelitian dan Pelatihan Ekonomika dan Bisnis (P2EB) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, dihubungi Bisnis Senin (29/4). 

Dia menjelaskan opsi harga tunggal tersebut lebih mudah diimplemenitasikan.

Sebaliknya, sambungnya, jika opsi yang dipilih pemerintah merupakan opsi harga tunggal, setidaknya hal ini akan lebih memudahkan. Meskipun demikian, kenaikan harga BBM tersebut memang tidak lebih dari Rp6.500.

“Harus kita lihat, dananya untuk apa dihemat. Harus ada bentuk nyata dari pemerintah jika harga BBM dinaikkan,” imbuhnya.

P2EB telah melakukan penelitian dan menunjukkan hasil bahwa masyarakat ingin realisasi dari kenaikan BBM memang untuk rakyat.

Sri mengatakan untuk menunjukkan keseriusan tersebut, pemerintah juga harus berhemat. Selain itu, pemerintah sebaiknya segera merealisasikan dana kenaikan BBM seperti untuk infratrusktur yang masih menjadi pekerjaan rumah dan mengadakan pelatihan untuk tenaga kerja wanita.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance Ahmad Erani Yustika menjelaskan penghematan yang diharapkan oleh pemerintah mungkin akan berbalik menjadi sebuah pemborosan, karena besarnya inflasi.

Jika pemerintah menargetkan akan menghemat biaya Rp30 triliun, dia menyatakan ada kemungkinan inflasi akan naik lebih dari nilai tersebut.

“Kemampuan [pemerintah] mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok sangat lemah sekarang,” ujarnya.

Dia menambahkan, kehidupan ekonomi yang kian sulit tidak menjadi sebuah pertanyaan jika nanti akan ada ancaman demo besar-besaran. Ini terkait dengan ancaman buruh dan mahasiswa yang akan berujuk rasa pada Hari Buruh 1 Mei.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Inda Marlina
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper