Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

FLU BURUNG: Sambiloto, Sirih Merah, Adas Mampu Hambat Virus H5N1

BISNIS.COM, JAKARTA--Seorang peneliti Dr. drh. Agus Setiyono  mengkaji puluhan tanaman yang berasal dari alam Indonesia obat lokal Indonesia untuk obat alami bagi flu burung.
Sutarno
Sutarno - Bisnis.com 07 April 2013  |  05:38 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA--Seorang peneliti Dr. drh. Agus Setiyono  mengkaji puluhan tanaman yang berasal dari alam Indonesia obat lokal Indonesia untuk obat alami bagi flu burung.

Penelitiannya serangkaian uji melalui studi in vitro menggunakan Sambiloto, Temu Ireng, Sirih Merah, Beluntas dan Adas.  Hasil penelitian menunjukan bahwa Sambiloto, Sirih Merah dan Adas memiliki potensi sebagai penghambat infeksi virus H5N1 ke sel Vero. 

”Tanaman obat yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai upaya preventif penanggulangan flu burung pada ayam khususnya dan infeksi penyakit viral pada umumnya,” kata Agus Setiyono dalam siaran pers IPB  Sabtu (6/4/2013).

Secara empiris, sambiloto (Andrographis paniculata Nees)  dimanfaatkan sebagai obat anti diuretik, anti diabetes, anti inflamasi, anti tukak lambung, anti histaminergik (gatal-gatal), menurunkan tekanan darah, rematik, analgetik, immunomodulator, melindungi kerusakan hati dan jantung yang reversibel, anti spermatogenik/androgenik. Disamping itu hasil pengujian pra klinik sambiloto menunjukkan bahwa andrografolide (komponen aktif) memiliki aktivitas sebagai anti virus, dan telah dikembangkan sebagai obat modern anti virus dengan nama androvir.

Secara empiris sirih merah (Piper crocatum)  dimanfaatkan untuk menurunkan kadar gula darah, anti tumor, jantung koroner, asam urat, hipertensi, peradangan organ tubuh (paru, hati, ginjal, pencernaan) serta luka yang sulit sembuh. 

Sirih merah mengandung flavonoid,   alkaloid, tanin dan minyak atsiri.  Senyawa flavonoid bersifat anti kanker, anti-oksidan, ant-diabetik, anti-septik dan anti-inflamasi.

Adas (Foeniculum vulgare) secara empiris telah banyak dimanfaatkan untuk mengobati sakit perut, perut kembung, mual, muntah, diare, sakit kuning, batuk, flu, sesak nafas (asma), nyeri haid, hernia, batu empedu. Komponen utama dari buah adas adalah anetol, minyak atsiri, fenkom, pinen, limonen, dipenten, felandren, metil chavicol, anisaldehid, dan asam anisat.

Dalam komposisi kombinasi Sambiloto, Adas dan Sirih Merah menunjukan efek yang baik dalam menghambat infeksi virus H5N1.  Berdasarkan hasil uji tersebut, maka perlu dilakukan pengujian lebih lanjut terhadap tanaman obat secara in vivo guna mengetahui potensi sebenarnya tanaman obat  tersebut. 

Sambiloto, Sirih Merah dan Adas diekstraksi dengan menggunakan pelarut  etanol sebelum digunakan  dalam percobaan uji hambat infeksi virus H5N1 ke ayam broiler.

“Dulu jumlahnya 30-an tanaman obat seluruh Indonesia. Kami bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro) Bogor. Waktu itu segala macam tanaman obat yang dimiliki Balitro digunakan. Intinya tanaman herbal berkhasiat di-screening dari tahun 2007 secara in vitro, dan 2008-2010 dilakukan uji secara in vivo. Akhirnya tahun 2010 itu didapat 3 tanaman berkhasiat yakni sirih merah, sambiloto dan adas yang mengerucut menghasikan hasil signifikan terhadap flu burung.

Dalam komposisi kombinasi 5% menunjukkan potensi yang baik secara in vivo dalam memblokir  infeksi virus AI H5N1 pada ayam broiler dengan dosis pemberian 0,5 ml/ekor selama 21 hari berturut-turut,” jelas staf pengajar di Fakultas Kedokteran Hewan IPB ini.

Uji in vivo terhadap ayam broiler yang ditantang virus H5N1 dilakukan di PT Vaksindo Satwa Nusantara, Cicadas, Gunung Putri, Bogor. Dr. Agus membagi ayam dalam tiga kelompok perlakuan yakni ayam broiler bervaksin, ayam broiler bervaksin dan diberi jamu (kombinasi antara sambiloto, adas dan sirih merah), dan ayam broiler yang diberi jamu saja.

“Ketiga kelompok ayam tersebut ditantang dengan virus di Gunung Putri. Yang herbal saja habis, yang vaksin dan herbal 100% hidup sampai hari ke 7, yang di vaksin saja ada yang mati 10% (tidak mem-protect hingga 100%),” terangnya.

Dari kematian ayam yang terjadi pada ketiga kelompok ayam tersebut dilakukan uji histopatologi untuk melihat jaringan apa yang dirusak oleh virus tersebut. “Yang herbal saja gambarnya berantakan dan terjadi kerusakan dimana-mana, vaksin saja terjadi kerusakan namun tidak separah ayam yang diberi herbal saja, ayam bervaksin dan diberi herbal terjadi sedikit kerusakan bahkan kondisinya mendekati ayam normal yang mati,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

flu burung

Sumber : Herry Suhendra

Editor : Others

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top