Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IMPOR HORTIKULTURA: Buah Impor tidak kaman

 
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 17 Mei 2012  |  19:53 WIB

 

 

BOGOR: Masyarakat diminta mewaspadai buah impor karena sudah dismpan 2 tahun dan dilumuri lilin agar tahan dingin.

 

Pakar Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB Ahmad Sulaeman mengurai satu temuannya tentang buah impor ini.  Dia mengungkapkan  satu terminal buah di Rotterdam, Belanda, yang luasnya hampir sama dengan luas Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng.

 

Di dalam terminal ini terdapat gudang pendingin sebagai tempat menyimpan buah yang usia penyimpanannya ada yang mencapai 2 tahun, dan yang paling muda adalah 6 bulan. Agar buah tahan di suhu dingin,  tidak kering dan tidak keriput, maka kulit buah dilapisi lilin.

 

Dalam lilin itu juga ditambahkan fungisida agar buah tidak berjamur. Hasil dari berbagai penelitian, fungisida yang biasa ditambahkan adalah jenis fincocillin yang bersifat anti androgenic yang sama sifatnya seperti DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane). Anti androgenic ini menimbulkan efek mandul pada serangga. 

Sebagaimana diketahui, DDT adalah insektisida “tempo dulu” yang pernah disanjung “setinggi langit” karena jasa-jasanya dalam penanggulangan berbagai penyakit yang ditularkan vektor serangga. Namun, kini penggunaan DDT di banyak negara di dunia terutama di Amerika Utara, Eropa Barat dan juga di Indonesia telah dilarang 

“Jelas buah impor tidak lepas dari pestisida, pasti itu. Dari berbagai penelitian, orang mengkonsumsi pangan yang mengandung residu pestisida, walaupun dalam kandungan yang rendah tenyata mampu menyebabkan demaskulinisasi. Jadi mengganggu perkembangan organ reproduksinya,” kata Prof Ahmad dalam siran pers IPB, hari ini, Kamis 17 Mei 2012. 

Karenanya, lanjut Prof. Ahmad, tidak mengherankan jika sekarang banyak ‘banci’ atau ‘kaum alay’ di sekitar kita. Padahal kalau kita menengok 1960-an, yang disebut banci itu adalah mereka yang punya kelamin ganda. Karna misalnya, pelari nasional dari Tasikmalaya akhirnya mengubah kelaminnya menjadi laki-laki, karena sejak dilahirkan dia memiliki kelamin ganda. 

Sementara kejadian pada zaman sekarang, para banci ini berawal dari laki-laki tulen, tapi lambat laun sifatnya kemayu dan kecenderungan sosialnya ke sesama laki-laki. “Itu terjadi setelah 30-40 tahun penggunaan pestisida atau revolusi hijau pertama. Harus kita akui bahwa banyaknya ‘kaum alay’ sekarang ini adalah dampak dari revolusi hijau pertama. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di sejumlah negara,” papar Prof Ahmad.(msb)

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Herry Suhendra

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top