MAY DAYUsulan libur nasional dikritisi pengusaha

 
News Editor | 30 April 2012 20:33 WIB

 

BANDUNG:  Usulan menjadi libur nasional untuk tanggal 1 Mei—yang diperingati sebagai hari buruh oleh beberapa elemen—mengundang polemik di kalangan pengusaha.
 
Wakil Ketua Umum Apindo Rahmat Gobel menilai soal dijadikannya hari buruh sebagai hari libur harus mempertimbangkan banyak hal.
 
“Kalau itu jadi hari libur, harus menjadi nilai tambah bagi buruh dan perusahaan. Jangan mengurangi produktivitas,” katanya usai acara seminar nasional  Bersama Menuju Perusahaan Kelas Dunia  di Hotel Grand Aquila, Bandung hari ini.  
 
Ia berharap hari libur tidak mengabaikan tingkat produktivitas dan efisiensi.
 
“Bukan cuma libur, tapi harus meningkatkan produktifitas dan efisiensi. Saya kira buruh harus memahami hal itu. Karena buruh tanpa perusahaan, tidak ada yang akan bekerja. Di sini kita harus membangun rasa saling menghormati, mempercayai,” katanya.
 
Pemilik Panasonic Gobel ini mempertanyakan alasan buruh yang ingin menjadikan hari buruh sebagai hari libur. “Jangan sekadar minta. Nanti besok minta lagi. Permintaan itu hal yang wajar. Tetapi yang harus kita pikirkan bagaimana dampak kepada perusahaan tempat mereka bekerja?” katanya.
 
Menurut Rahmat, pengusaha tidak akan keberatan jika hari libur memberi manfaat. “Kalau ada manfaat nilai tambah itu pasti diberikan. Jangan sampai merugikan perusahaan karena [1 Mei] jam kerja kan?” katanya.
 
Saat ini, Indonesia membutuhkan produktifitas tinggi untuk menghadapi gempuran produk impor dan produk ilegal. “Itu harus kita lawan. Buruh kan juga dirugikan. Sekarang bagaimana agar buruh juga bisa melakukan kontrol pada pasar barang-barang import ilegal, bisa nggak?” katanya. (sut)

Sumber : Wisnu Wage Pamungkas

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top