EKSPOR SALAK: Petani minta bantuan ekspor

SLEMAN: Petani salak di sentra produksi komoditas unggulan Sleman itu meminta pemerintah untuk  membantu mencari pasar baru ekspor produk hortikultura tersebut ke negara lain, selain China.Sari Siswanto, Ketua Gabungan Kelompok Tani Paguyuban Mitra
Reporter 1
Reporter 1 - Bisnis.com 23 April 2012  |  14:42 WIB

SLEMAN: Petani salak di sentra produksi komoditas unggulan Sleman itu meminta pemerintah untuk  membantu mencari pasar baru ekspor produk hortikultura tersebut ke negara lain, selain China.Sari Siswanto, Ketua Gabungan Kelompok Tani Paguyuban Mitra Turindo (Gapoktan PMT), Kabupaten Sleman mengatakan saat ini salak produksi petani Turi, Sleman sebagian besar diekspor ke China melalui PT PT Agung Mustika Selaras (PT. AMS).“Kami sejak sejak 2009 hingga Maret 2012, sudah melakukan 180 kali ekspor Salak ke China Tiongkok dengan total volume 1.425 ton,” katanya, Sabtu 21 April 2012.Sejauh ini, katanya, belum pernah ada komplain dari negara tujuan soal kualitas maupun standar mutu yang lainnya. Halm ini karena Mitra Turindo meberlakukan aturan yang ketat terhadap anggotanya.Dia juga menyebutkan rasa salak yang khas dari Turi, Sleman yang kemungkinan disebabkan pengaruh abu vulkanik Gunung Merapi menjadi daya tarik tersendiri konsumen di luar negeri.Sari dihadapan rombongan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Zaenal Bachruddin yang berkunjungan ke daerahnya itu mengatakan meskipun sudah berhasil menembus pasar China, petani di Sleman mendesak untuk bisa masuk pasar negara lain.“Masalahnya harga salak di tingkat petani kalau dijual di dalam negeri paling hanya mencapai Rp3.500-Rp4.000 per kilogram, tapi kalau ekspor paling rendah Rp6.000,” katanya mengutip ucapan petani anggota Mitra Turindo.Sementara itu Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Zaenal Bachruddin meminta petani salak di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman untuk terus meningkatkan mutu dan produksi guna menjaga menjaga keberlanjutan ekspor ke China.“Pemkab Sleman agar senantiasa menjaga kulitas buah salak agar bahkan meningkatkan kualitas komoditas ini dan menjadikan komoditas ekpor unggulan daerah sini,” katanya.Dia menjelaskan ekspor salak ke China tersebut merupakan kelanjutan penandatanganan Protocol of Plant Quarantine Requirements for the Export of Fruit Salacca from Indonesia to Tiongkok the between the General Administration of Quality Supervision.Selain itu juga Inspection and Quarantine (AQSIQ) PRC and Ministry of Agriculture of Indonesia in the Jogjakarta Sleman district Dl to Tiongkok.Zaenal usai melepas ekspor hasil panen Gapoktan Mitra Turindo ke China, pekan lalu, mengatakan, penandatanganan protokol tersebut sesuai dengan kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan Tiongkok dalam rangka China - ASEAN Free Trade Area (CAFTA) atau kawasan perdagangan bebas ASEAN–China.”Berdasarkan protokol itu, salak yang diimpor ke China harus berasal dari kebun yang telah teregistrasi Standar Operasional Prosedur Good Agricultural Practice-GAP,” jelasnya.Untuk memenuhi persyaratan tersebut, lanjut Zaenal, 40 kelompok tani asal Gapoktan PMT dan seluruh kebun salak seluas 90 hektare teregistrasi.”China ingin salak yang diimpor ke negaranya memiliki grade B atau 12 - 18 buah per kg dengan tingkat kematangan 70%-80%,” jelas Zaenal.Dia menambahkan, untuk memenuhi persyaratan itu, pada 2011 Gapoktan PMT mendapatkan bantuan rumah kemas (packaging house) melalui Dana Tugas Pembantuan (TP) dari Ditjen PPHP Kementan dalam program insentif 2 in 1.Pemerintah melalui Kementan, terus berupaya mendorong ekspor hasil hortikultura itu ke China dan negara-negara lainnya dengan senantiasa membangun koordinasi dengan Pemprov Yogyakarta dan Pemkab Sleman.Sementara dalam Press Tour 2012  Ditjen PPHP ke D.I. Yogyakarta dan Jateng, Zaenal  juga mengunjungi sejumlah lokasi di antaranya Ponpes Da’arud Dzikri (program bantuan Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat/LM3), Surakarta, Jateng.Kemudian Olahan Buah Segar (Buah Naga), Sragen; Usaha Pakan Ternak, Wonogiri; CV Makmur Lestari Usaha Tepung Cassava (tepung singkong), Gunung Kidul,; dan Ponpes Darul Fallah (program LM3), Sleman, Yogyakarta. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top