Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perkebunan perlu investasi Rp57 triliun

JAKARTA: Kebutuhan investasi perkebunan tahun depan mencapai Rp57,31 triliun, tetapi kontribusi investasi APBN hanya 2,26% atau Rp1,49 triliun, sehingga pemerintah mengharapkan investasi swasta.Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir mengatakan
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 24 November 2011  |  15:29 WIB

JAKARTA: Kebutuhan investasi perkebunan tahun depan mencapai Rp57,31 triliun, tetapi kontribusi investasi APBN hanya 2,26% atau Rp1,49 triliun, sehingga pemerintah mengharapkan investasi swasta.Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir mengatakan kontribusi investasi dari APBN pada tahun depan Rp1,49 triliun itu termasuk Gerakan Nasional Kakao Rp500,18 miliar.Adapun, kebutuhan investasi perkebunan itu sisanya dari sumber lain seperti APBD, perbankan, dan swadaya masyarakat Rp55,83 triliun atau 97,4%.“APBN kan hanya pengungkit saja, sisanya diharapkan kontribusi dari sektor swasta, termasuk peran serta petani,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.Gamal menjelaskan investasi perkebunan pada tahun depan kemungkinan juga akan disumbang dari instansi atau kementerian lain terutama Kementerian Pekerjaan Umum dalam membangun infrastruktur seperti jaringan irigasi dan jalan di kawasan perkebunan.Komposisi investasi perkebunan pada tahun ini, katanya, juga didominasi dari sektor swasta. Dia optimistis kebutuhan investasi perkebunan tahun depan Rp57,31 triliun itu dapat tercapai terutama kontribusi dari sektor swasta.Namun, dia tidak menyebutkan nilai investasi keseluruhan di sektor perkebunan pada tahun ini. “Saya lupa angkanya.”Menurutnya, anggaran dari APBN hanya untuk kegiatan pengungkit antara lain seperti penyediaan benih, pembinaan, pengawalan, dan pengawasan serta evaluasi perkebunan di Tanah Air.Alokasi APBN untuk sektor perkebunan pada 2012 sebesar Rp1,49 triliun itu ditargetkan untuk mencapai pertumbuhan PDB perkebunan sebesar 11,22%, kesempatan kerja baru 370.000 tenaga kerja dengan melibatkan petani 20,45 juta kepala keluarga.Target Kementerian Pertanian untuk meningkatkan pendapatan pekebun menjadi US$1.720 per tahun per kepala keluarga per 2 hektare.Nilai tukar petani (NTP) sektor perkebunan diharapkan naik menjadi 107,13 pada tahun depan. Dari sisi ekspor, Kementan menargetkan ekspor produk perkebunan pada tahun depan US$44,08 miliar.Komoditas perkebunan yang menjadi fokus pemerintah pada tahun depan mencakup 15 komoditas yaitu karet, kelapa sawit, kelapa, kakao, kopi, lada, jambu mete, teh, cengkeh, jarak pagar, kemiri sunan, tebu, kapas, tembakau, dan nilam.Fokus pembangunan perkebunan pada 2012 yaitu revitaliasi perkebunan sebagai upaya percepatan pengembangan perkebunan raktar melalu perluasan, peremajaan, dan rehabilitasi tanaman perkebunan untuk sawit, kakao dan karet.Kementan menargetkan revitalisasi perkebunan sawit, kakao dan karet pada 2012 seluas 147.728 hektare dengan anggaran Rp11,55 miliar.Selain revitalisasi perkebunan, fokus Kementan adalah pencapaian swasembada gula nasional. Pemerintah menargetkan swasembada gula nasional pada 2014.Untuk mencapai target swasembada gula, Kementan mengalokasikan Rp196,65 miliar untuk pengembangan tanaman tebu seluas 7.865 ha.Kementan mengalokasikan Rp153,61 miliar untuk mengembangkan kopi specialty pada tahun depan dengan rincian intensifikasi kopi specialty jenis arabika seluas 7.198 ha dengan anggaran Rp56,32 miliar, jenis robusta seluas 6.312 ha dengan dana Rp40,05 miliar.Selain intensifikasi, Kementan mengalokasikan Rp57,23 miliar pada 2012 untuk perluasan lahan kopi arabika dan robusta seluas 4.600 ha. (Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top