Inflasi masih jadi tantangan tahun depan

JAKARTA: Inflasi masih menjadi tantangan terbesar bagi pemerintah tahun depan. Tekanan dari kenaikan harga-harga komoditas, terutama harga pangan masih dianggap sebagai komponen utama yang memicu laju inflasi tahun depan.
News Editor | 22 Desember 2010 13:19 WIB

JAKARTA: Inflasi masih menjadi tantangan terbesar bagi pemerintah tahun depan. Tekanan dari kenaikan harga-harga komoditas, terutama harga pangan masih dianggap sebagai komponen utama yang memicu laju inflasi tahun depan.

Chief Economist PT Mandiri Sekuritas (Mansek) Destry Damayanti memproyeksikan laju inflasi tahun depan sebesar 6,6%. Kenaikan harga komoditas akan memicu kenaikan harga barang jadi sehingga kenaikan harga barang jadi juga semakin mempengaruhi laju inflasi inti tahun depan.

Misalnya kapas, itu komoditasnya naik tapi akhirnya barang jadi akan mahal juga, baju akan jadi mahal. Pada akhirnya, inflasi inti akan terpengaruh juga karena kenaikan harga produk yang berhubungan dengan harga komoditas yang juga akan naik, kata Destry di sela-sela acara Outlook Makroekonomi 2011 hari ini.

Oleh sebab itu, lanjutnya, Mansek memproyeksikan BI rate akan naik menjadi 7% di 2011 sebagai langkah BI menekan laju inflasi. Destry mengatakan kenaikan BI rate tahun depan juga dipengaruhi dari sisi perbankan itu sendiri dimana Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan kredit di 2011 sekitar 24% sementara DPK diperkirakan tumbuh 16%.

Jadi daripada orang menaruh uang di deposito, dia akan cari instrumen lain. Itu akan menyebabkan likuiditas di perbankan akan lebih tight dan ini akhirnya akan mendorong suku bunga juga naik, katanya.

Destry memperkirakan inflasi akan mencapai puncaknya di akhir kuartal II/2011, terutama pada bulan Juli-Agustus karena pada saat itu ada Lebaran dan masa masuk sekolah. Untuk antisipasi itu, BI diperkirakan mulai menaikkan suku bunga di kuartal II/2011.

Inflasi akan menembus 7%-an di bulan Juli-Agustus, tapi gradually dia akan turun di level 6,6%. Kita perkirakan BI bisa antisipasi itu di kuartal II/2011, paling tidak agar consumer goods bisa lebih diredam, katanya.

Menurutnya, pertumbuhan kredit di sektor konsumsi ke depan akan tinggi sekali walaupun secara jumlah kredit konsumsi masih relatif kecil. Namun secara pertumbuhan, kredit konsumsilah yang saat ini men-drive kredit perbankan.

Dalam outlook-nya yang diluncurkan hari ini, Mansek memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 6,3% di 2011, sementara itu laju inflasi 6,6%, BI rate naik menjadi 7% dan nilai tukar sebesar Rp8.762 per dolar AS dan rata-rata sebesar Rp8.819 per dolar AS.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top