Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Saham AS Bergejolak Gegara Trump Mau Utak-atik The Fed

Aksi jual pada pasar AS meningkat pada Senin (21/4/2025) karena kekhawatiran akan rencana Presiden Donald Trump memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Pialang berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, Amerika Serikat. Bloomberg/Michael Nagle
Pialang berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, Amerika Serikat. Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi jual pada pasar Amerika Serikat (AS) meningkat pada Senin (21/4/2025) karena pasar khawatir tentang rencana Presiden AS Donald Trump yang ingin memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Melansir Bloomberg pada Selasa (22/4/2025), dolar dan pasar saham AS merosot dalam perdagangan pasca-liburan. Obligasi pemerintah beragam, dengan obligasi jangka panjang anjlok dan obligasi jatuh tempo pendek menguat. 

Investor tampak bergulat dengan risiko pemecatan Jerome Powell. Gedung Putih menyampaikan rencana pemecatan Powell itu sedang dikaji. Hal ini terjadi di tengah-tengah arah kebijakan Presiden Trump yang terlihat bakal mengobrak-abrik ekonomi terbesar di dunia.

"Pada saat pemerintahan telah menanamkan tingkat ketidakpastian yang semakin tinggi ke dalam prospek ekonomi, setiap upaya untuk menyingkirkan Powell akan menambah tekanan ke bawah pada aset AS," kata Ian Lyngen, kepala strategi suku bunga AS di BMO Capital Markets, Selasa (22/4/2025).

Trump menegaskan kembali seruannya kepada Fed untuk menurunkan suku bunga pada hari Senin melalui sebuah posting di Truth Social, menulis, "'Pemotongan Preemptif' dalam Suku Bunga diminta oleh banyak orang."

Meski para ahli hukum mengatakan bahwa seorang presiden tidak dapat dengan mudah memecat ketua Fed, dan Powell mengatakan bahwa dia tidak akan mengundurkan diri jika diminta oleh Trump, spekulasi tersebut memberikan pukulan baru bagi aset AS. 

Tarif perdagangan agresif Washington telah memicu kekhawatiran akan resesi dan memicu keraguan tentang status Treasury sebagai tempat berlindung pilihan. 

Campuran risiko tersebut memicu kekhawatiran tentang jalur pertumbuhan dan inflasi — dan bagaimana Fed dapat menyeimbangkannya. Meski para pedagang memperkirakan setidaknya tiga pemotongan suku bunga di AS tahun ini, mantan Presiden Fed New York Bill Dudley mengatakan para pembuat kebijakan kemungkinan akan bergerak lebih lambat dari yang diantisipasi.

Indeks Bloomberg Dollar Spot turun sebanyak 1% ke level terendah sejak akhir 2023 pada perdagangan Senin, sebelum sedikit memangkas pergerakannya. Yen menguat ke level yang terakhir terlihat pada bulan September, sementara euro menguat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. 

Mata uang bersama tersebut sekarang diperdagangkan pada sekitar $1,15, mendekati perkiraan akhir tahun yang paling optimis dari para ahli strategi. Yen, pada sekitar 140,50 per dolar, lebih kuat dari target akhir tahun rata-rata sebesar 143, data Bloomberg menunjukkan. 

“Renungan Trump tentang potensi pemecatan Ketua Fed Powell, bahkan jika pemikiran tersebut tidak membuahkan hasil, di benak masyarakat internasional merupakan ancaman besar bagi independensi bank sentral AS dan dengan demikian status dolar sebagai mata uang safe haven,” kata pedagang valuta asing Monex, Helen Given. 

Given menambahkan, jika AS mengalami resesi dengan bank sentral yang tidak atau tidak dapat bertindak secara independen, kemungkinan kemerosotan tersebut berpotensi semakin buruk, sehingga pasar semakin khawatir.

Aksi jual aset AS pada Senin meningkat setelah Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett mengatakan bahwa Trump sedang mempelajari masalah tersebut, setelah sebuah laporan mengatakan presiden sedang menjajaki langkah tersebut. Beberapa lembaga hedge fund menjual dolar AS pada hari Senin setelah pernyataan Hassett. 

Data agregat Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS menunjukkan, lembaga hedge fund kini menjadi yang paling tidak optimis terhadap dolar AS sejak Oktober.

“Independensi bank sentral sangat berharga — bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh dan sangat sulit untuk dimenangkan kembali jika pernah hilang,” kata Will Compernolle, seorang ahli strategi makro di FHN Financial di Chicago. 

Compernolle menuturkan, ancaman Trump terhadap Powell tidak membantu meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap aset AS. Namun, menurutnya, kebijakan tarif masih menjadi pendorong utama terjadinya aksi jual tersebut.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper