Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Efisiensi Anggaran Prabowo Berdampak pada Penurunan Jumlah Pemudik 2025?

Efisiensi anggaran disebut turut memberi dampak penurunan minat masyarakat untuk mudik pada lebaran 2025
Kendaraan pemudik terjebak kemacetan di jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). Antara/Raisan Al Farisi/rwa.
Kendaraan pemudik terjebak kemacetan di jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). Antara/Raisan Al Farisi/rwa.

Bisnis.com, SURABAYA — Efisiensi yang dilakukan pemerintah Indonesia disebut berperan terhadap penurunan jumlah pemudik pada momen lebaran 2025. 

Peneliti Inisiatif Strategis untuk Transportasi (Instran) Ki Darmaningtyas mengatakan dampak efisiensi anggaran sangat luas, termasuk berpengaruh pada minat warga untuk melakukan mudik Lebaran. 

Dia mencontohkan, efisiensi tersebut membuat para ASN muda  yang misalnya masih punya tanggungan cicilan rumah dan kendaraan pasti memilih tidak mudik karena selama tiga bulan terakhir mereka tidak mendapatkan tambahan penghasilan, baik dari perjalanan dinas ataupun kegiatan seremonial dan konsultansi. 

"Mereka lebih baik mengefisiensikan pendapatannya untuk membayar cicilan rumah dan kendaraan, sehingga memilih tidak mudik," kata dia, dikutip Kamis (3/4/2025).

Variabel lain yang menurutnya membuat jumlah pemudik tahun ini susut adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda. Selain itu, menurutnya banyak hotel dan tempat hiburan juga sepi penggunjung yang berimbas pada turunnya kesejahteraan karyawan.

"Sehingga mereka tidak bisa mudik, mereka lebih baik menghemat pendapatnya untuk kelangsungan hidup berikutnya sambil menunggu kepastian nasib mereka," tegasnya.

Angka Pemerintah dan Realita

Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan bersama Badan Litbang Kompas, potensi pergerakan selama Lebaran 2025 mencapai 52% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 146,48 juta jiwa. Adapun, dari jumlah tersebut, sebanyak 51,3% berasal dari Pulau Jawa, dengan mayoritas pemudik berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Ki Darmaningtyas menyebut pemerintah dalam merilis angka itu hanya mengacu pada survei saja sehingga tidak cukup kuat untuk menjadi landasan kebijakan persiapan mudik Lebaran.

"Sayang dalam perumusan kebijakan ini hanya mendasarkan hasil survei saja, tidak mendasarkan pada evaluasi lapangan pelaksanaan mudik Lebaran 2024 maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat," ujarnya.

Pada periode angkutan mudik Lebaran 2024, penumpang yang melakukan perjalanan mudik Angkutan Lebaran 2024 mencapai sekitar 242 juta orang, dan bahkan melampaui survei awal Kementerian Perhubungan yang memproyeksi ada 193 juta pemudik. 

Pemudik
Pemudik

Sementara pada 2025, jumlah pemudik yang diestimasi pemerintah sebesar 146,48 juta jiwa itu turun 24% jika dibandingkan proyeksi pergerakan pemudik pada 2024.

Ki Darmaningtyas menjabarkan, data PT Jasa Marga (Pesero) yang dihimpun dari Pintu Tol Ciawi 1, Cikampek Utama 1, Kalihurip Utama 1 (Jawa Barat) dan Cikupa antara H-5 sampai H-1 antara arus mudik 2024 dengan 2025 menunjukkan adanya penurunan selama kurun waktu H-5 sampai H-1 Lebaran. Pada arus mudik 2024 ada 1.045.330 unit kendaraan, sedangkan pada arus mudik 2025 terdapat 1.004.348 kendaraan atau turun sebanyak 40.982 kendaraan. 

Namun, puncak arus mudik tetap ada pada H-3, yaitu sebanyak 231.511 (2024) menjadi 255.027 kendaraan. 

"Ini artinya kebijakan WFA sepertinya tidak berpengaruh signifikan. Yang ada pengaruh sepertinya libur lebih awal, hal itu terlihat dari pergerakan pada H-10 dan H-9 yang meningkat cukup signifikan, yaitu dari 93.568 unit (H-10, 2024) menjadi 161.893 (H-10, 2025) dan dari 116.579 unit (H-9, 2024) menjadi 166.948 unit (H-9, 2025)," ujarnya.

Penurunan jumlah kendaraan itu juga terjadi di Pelabuhan Merak, Banten yang menghubungkan Jawa dengan Sumatra. Berdasarkan hasil monitoring PT ASDP (Pesero) untuk kurun waktu H-10 (21/3/2025) sampai H (31/3/2025), tercatat ada sebanyak 225.400 kendaraan roda empat yang menyeberang. Angka itu turun 0,1% dibanding sebanyak 225.637 pada periode yang sama pada 2024.

Meski begitu, jumlah penumpang naik 3%, dari 859.521 pada periode 2024 menjadi 885.828 pada 2025.

Jumlah penurunan juga terjadi di moda transportasi udara di Bandara Internasional Yogaykarta (YIA). Berdasarkan data yang diterima Bisnis, jumlah penerbangan YIA dari H-10 sampai hari H Lebaran 2025 mencapai 948 penerbangan, turun 11,2% dibanding 1.124 penerbangan pada periode yang sama pada Lebaran 2024.

Rata-rata penerbangan harian bandara YIA periode H-10 21 Maret 2025 sampai hari H Lebaran 31 Maret 2025 mencapai 86 penerbangan. Pada periode 2024, rata-rata penerbangan harian mencapai 102 penerbangan.

Jumlah penumpang dalam periode ini juga mengalami penurunan, yakni tercatat sebanyak 136.436 penumpang atau turun 3% dibanding jumlah penumpang dalam periode yang sama pada Lebaran 2024 sebanyak 150.132.

Rata-rata harian jumlah penumpang pada periode tersebut mencapai 12.403, menurun dibanding rata-rata harian jumlah penumpang pada periode H-10 sampai hari H Lebaran 2024 sebanyak 13.648.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper