Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Beras Mahal Jelang Pemilu, Panen Raya Jadi Pertaruhan

Harga beras masih mengalami tren kenaikan jelang Pemilu, Bapanas menilai produksi saat panen raya jadi pertaruhan.
Aktivitas perdagangan beras di Pasar Induk Cipinang, Kamis (10/8/2023)./ BISNIS - Dwi Rachmawati
Aktivitas perdagangan beras di Pasar Induk Cipinang, Kamis (10/8/2023)./ BISNIS - Dwi Rachmawati

Bisnis.com, JAKARTA - Harga beras masih mengalami tren kenaikan jelang Pemilihan Umum (Pemilu). Produksi saat panen raya jadi pertaruhan.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menyebut panen raya akan mulai terjadi pada Maret 2024. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras di bulan itu lebih dari 3 juta ton.

Kendati pasokan beras akan surplus pada Maret 2024, Arief belum bisa memastikan tren harga beras saat panen raya. Menurutnya, saat ini pemerintah tengah melakukan konsolidasi untuk menjaga harga gabah di tingkat petani tidak anjlok saat panen raya mendatang.

"Kita jaga [harga] hulu dan hilir," ujar Arief saat dihubungi, Senin (5/2/2024).

Laporan BPS mengestimasikan ketersediaan beras (selisih antara produksi dengan konsumsi bulanan) pada Maret 2024 akan surplus sekitar 0,97 juta ton. Surplus beras pada Maret 2024 lebih rendah dibandingkan surplus pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya.

Adapun pada Maret 2023, neraca beras mengalami surplus mencapai 2,59 juta ton dan sebanyak 2,98 juta ton pada Maret 2022. Sedangkan angka konsumsi beras bulanan diperkirakan sekitar 2,5 juta ton per bulan.

BPS pun mencatat jumlah wilayah yang mengalami kenaikan harga beras pada pekan pertama Februari 2024 sebanyak 179 kabupaten/kota atau naik dibandingkan pekan sebelumnya sebanyak 142 kabupaten/kota.

Adapun rata-rata harga beras pada pekan pertama Februari 2024 sebesar Rp14.107 per kilogram mengalami kenaikan dibandingkan harga rata-rata beras pada pekan terakhir Januari 2024 sebesar Rp13.973 per kilogram.

Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik, Perum Bulog, Mokhamad Suyamto menyebut saat ini stok beras yang dikuasai Bulog sebanyak 1,25 jutat ton yang terdiri dari beras pemerintah (PSO) sebanyak 1,24 juta ton dan 11.700 ton beras komersial.

"Stok ini akan terus bertambah," ujar Suyamto dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, Senin (5/2/2024).

Adapun ihwal impor beras, Suyamto menyebut pihaknya telah berhasil tekan kontrak sekitar 500.000 ton dan ditargetkan tiba sebelum puncak panen raya terjadi. Dia memastikan bahwa pihaknya akan fokus pada penyerapan beras petani saat panen raya tiba yaitu sekitar akhir Maret hingga awal April 2024.

"Kami sudah melakukan lelang kembali dan mendapatkan tambahan sekitar 500.000 ton dan ini kami kontrak dengan supplier akan tiba paling lambat Maret [2024]," ungkap Suyamto.

Sedangkan upaya pengendalian harga sebelum panen raya, Bulog tengah mengebut penyaluran beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan). Suyamto mengatakan, atas arahan presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Bapanas, penyaluran SPHP sampai Maret 2024 akan dilipatgandakan dari rata-rata penyaluran bulanan.

Adapun sejak Januari 2024 pihaknya telah menggelontorkan beras SPHP ke pasaran sebanyak 178.401 ton.

"Sesuai arahan presiden untuk SPHP Januari - Maret 2024 ditargetkan 2 kali lipat dari rata-rata bulan biasanya, maka di Februari ini digelontorkan sebanyak 200.000 ton," sebutnya


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Rachmawati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper