Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Surplus Neraca Dagang Menyusut, Pemerintah Antisipasi Perlambatan Ekonomi Global di 2024

Surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2023 mencapai US$36,93 miliar, lebih rendah dari surplus pada 2022 sebesar US$54,46 miliar.
Ilustrasi neraca perdagangan Indonesia lewat kegiatan ekspor-impor menggunakan kapal. JIBI/Bisnis
Ilustrasi neraca perdagangan Indonesia lewat kegiatan ekspor-impor menggunakan kapal. JIBI/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja perdagangan Indonesia dinilai menunjukkan kinerja yang tetap terjaga di tengah perlambatan ekonomi global pada 2023.

Hal ini tercermin dari surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2023 yang tercatat sebesar US$36,93 miliar meski lebih rendah dari surplus pada 2022 sebesar US$54,46 miliar.

“Meski mengalami penurunan dibandingkan 2022, surplus neraca perdagangan di tahun 2023 kemarin menunjukkan daya tahan eksternal perekonomian nasional di tengah peningkatan risiko global, termasuk moderasi harga komoditas dan perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama seperti China,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam siaran pers, Selasa (16/1/2024).

Dia merincikan, nilai ekspor Indonesia pada 2023 tercatat sebesar US$258,82 miliar, sedikit di bawah capaian ekspor pada 2022 yang sebesar U$D291,90 miliar. 

Febrio mengatakan, meski secara nominal ekspor Indonesia mengalami penurunan, namun dari sisi volume, ekspor Indonesia pada 2023 masih tumbuh 8,55% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Perlambatan nilai ekspor tersebut, jelas dia, sejalan dengan moderasi harga komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit dan batu bara. 

Selain itu, perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia juga memberikan andil terhadap perlambatan nilai ekspor Indonesia. 

Sementara sepanjang 2023, ekspor Indonesia masih terkonsentrasi di China dengan share sebesar 25,66%, Amerika Serikat 9,57%, dan India 8,35%. 

Di samping itu, ekspor Indonesia ke Asean dan Uni Eropa masing–masing tercatat memiliki share 18,35% dan 6,78% terhadap total ekspor Indonesia pada 2023. 

Di sisi lain, impor Indonesia sepanjang 2023 mencapai US$221,89 miliar, turun 6,55% yoy, yang dipicu terutama oleh perlambatan impor mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya, sementara mesin dan peralatan mekanis dan bagiannya menyumbang kenaikan impor. 

“Sama seperti ekspor, secara volume, impor Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan yang positif sebesar 8,04% yoy, sejalan dengan masih kuatnya permintaan domestik,” kata Febrio. 

Febrio menambahkan, pada 2024, aktivitas perdagangan Indonesia masih akan dipengaruhi oleh ketidakpastian aktivitas ekonomi global yang tercermin pada proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global oleh berbagai lembaga internasional yang juga diikuti oleh moderasi harga komoditas. 

Oleh karena itu, pemerintah kata dia akan terus memantau dan menyiapkan langkah antisipasi yang diperlukan.

“Pemerintah akan terus memantau dampak perlambatan global terhadap ekspor nasional, serta menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi SDA, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi negara mitra dagang utama,” jelasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper