Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Alasan Sri Mulyani Semringah Defisit APBN 2023 Cuma 1,65% dari PDB

Menkeu Sri Mulyani mengatakan rapor APBN 2023 cukup baik lantaran defisit 1,65% dari PDB atau di bawah target.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Asean Finance Ministers and Central Bank Governors (AFMGM) di Jakarta, Jumat (25/8/2023). Dok Kemenkeu RI.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Asean Finance Ministers and Central Bank Governors (AFMGM) di Jakarta, Jumat (25/8/2023). Dok Kemenkeu RI.

Bisnis.com, JAKARTA – Rapor keuangan negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang 2023 terbilang 'hijau'. Salah satunya lantaran APBN 2023 membukukan defisit di bawah target, yaitu sebesar Rp347,6 triliun atau 1,65% dari produk domestik bruto (PDB). 

Defisit APBN 2023 jauh lebih rendah dibandingkan dengan target pada APBN yang sebesar 2,84% dari PDB dan target Perpres No. 75/2023 sebesar 2,27% dari PDB.

“Cerita APBN 2023 yang kita sebutkan the end of the journey semenjak pandemi, akhir dari perjalanan semenjak shock pandemi terjadi, ditutup dengan husnul khotimah, kalau orang mengatakan, cukup baik,” kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN Kita, Selasa (2/1/2024).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata menyampaikan bahwa capaian defisit pada 2023 tersebut merupakan yang terendah dalam 12 tahun terakhir.

“Sebelumnya defisit lebih rendah itu pada 2011, yaitu 1,14%,” katanya.

Isa menjelaskan pemerintah mampu menjaga defisit yang lebih rendah utamanya didukung oleh penerimaan negara yang tetap kuat.

Pada 2023, pemerintah berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp2.774,3 triliun atau mencapai 112,6% dari target APBN dan 105,2% dari target Perpres 75/2023.

Dari jumlah tersebut, pemerintah mengantongi penerimaan perpajakan sebesar Rp2.155,4 triliun yang mencapai 106,6% dari target APBN dan 101,7% dari target Perpres 75/2023.

Sejalan dengan itu, belanja negara sepanjang 2023 terealisasi sebesar Rp3.121,9 triliun, mencapai 102,2% dari target APBN sebesar Rp3.061,2 triliun dan 100,2 triliun dari target yang dinaikkan dalam Perpres 75/2023 sebesar Rp3.117,2 triliun.

“Penerimaan lebih tinggi dari target dan kemudian belanja tetap ada kenaikan sedikit dari tahun 2022, tapi kita dapatkan angka defisit yang lebih rendah,” jelas Isa.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper