Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inalum Telah Kucurkan Rp3,8 Triliun untuk Smelter Alumina (SGAR) Mempawah

Inalum telah mengucurkan sekitar Rp3,8 triliun untuk proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, Kalimantan Barat
Pabrik peleburan PT Inalum (Persero)./inalum.id
Pabrik peleburan PT Inalum (Persero)./inalum.id

Bisnis.com, JAKARTA — PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) melaporkan kemajuan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, Kalimantan Barat telah mencapai 80% per Desember 2023. 

Inalum telah mengucurkan sekitar US$250 juta setara dengan Rp3,8 triliun (asumsi kurs Rp15.515 per dolar AS) untuk penyelesaian lebih separuh megaproyek pengolahan bauksit tersebut. 

“Diharapkan di kuartal II/2024 sudah commisioning dan produksi pertama alumina di kuartal III/2024,” kata Direktur Pengembangan Usaha Inalum Melati Sarnita saat dikonfirmasi, Kamis (21/12/2023). 

Melati menambahkan, perseroan telah menyiapkan tambahan modal sekitar US$100 juta setara dengan Rp1,55 triliun untuk kelanjutan megaproyek tersebut. Tambahan modal itu sepenuhnya berasal dari kas Inalum. 

“Akan ada tambahan investasi sebesar US$100 juta dalam waktu dekat,” kata dia. 

SGAR Mempawah fase I dengan nilai investasi mencapai US$831,5 juta rencananya bakal menambah kapasitas produksi smelter grade alumina (SGA) mencapai 1 juta ton, dengan kapasitas serap bauksit dari hulu sebesar 3 juta ton. 

Di sisi lain, Inalum berencana untuk melanjutkan pengerjaan SGAR Mempawah untuk fase II dengan potensi tambahan kapasitas produksi alumina mencapai 1 juta ton hingga 2 juta ton nantinya. Adapun, kebutuhan investasi untuk proyek tahap dua tidak berbeda dengan fase I. 

Saat ini, Inalum masih melakukan beauty contest atau pemilihan calon mitra strategis untuk usaha patungan pada pengembangan tahap kedua tersebut. 

Sebelumnya, pemerintah mencabut proyek pengerjaan SGAR Mempawah dari daftar proyek strategis nasional (PSN) lewat penerbitan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian No. 9/2022 pada akhir Juli 2022. 

Keputusan itu diambil lantaran proyek yang ditaksir menelan investasi sekitar US$1,7 miliar (Fase I dan Fase II) itu molor cukup lama akibat perselisihan yang terjadi dari pihak pemegang konsorsium EPC, yakni BUMN asal China, China Aluminium International Engineering Corporation Ltd. (Chalieco) sebesar 75 persen dan sisanya PT Pembangunan Perumahan Tbk. (PTPP).

Seperti diketahui, proyek strategis untuk pemurnian bijih bauksit itu dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) yang sahamnya mayoritas dimiliki Inalum sebanyak 60% dan sisanya PT Aneka Tambang Tbk. atau Antam dengan kepemilikan 40%.

Saat itu, PT BAI melaporkan potensi pendapatan yang hilang atau potential revenue loss dari mandeknya proyek SGAR Mempawah selama 16 bulan terakhir mencapai US$450 juta atau setara Rp6,37 triliun hingga September 2022.

“Sampai saat ini delayed-nya itu 16 bulan, kami hitung potential revenue loss-nya itu sekitar US$450 juta,” kata Direktur Teknik PT BAI Darwin Saleh Siregar saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Selasa (20/9/2022).

 PT BAI mencatat setiap bulannya potensi pendapatan yang hilang dari molornya pengerjaan fasilitas pemurnian dan pengolahan bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat mencapai US$28 juta atau setara Rp419,16 miliar. 

 “Per bulan potential revenue loss-nya US$28 juta,” ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper