Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Softbank Merugi Rp97,07 Triliun Gegara WeWork Bangkrut

SoftBank melaporkan kerugian bersih 931,1 miliar yen atau US$6,2 miliar pada kuartal yang berakhir September 2023.
CEO Softbank Group Corp. Masayoshi Son memberi salam dalam konferensi pers di Tokyo, Jepang, Rabu (12/2/2020)./Bloomberg-Kiyoshi Ota
CEO Softbank Group Corp. Masayoshi Son memberi salam dalam konferensi pers di Tokyo, Jepang, Rabu (12/2/2020)./Bloomberg-Kiyoshi Ota

Bisnis.com, JAKARTA – Softbank Group Corp.membukukan kerugian Rp97,07 triliun pada kuartal terakhir menyusul kebangkrutan WeWork yang sempat menjadi salah satu portofolio investasi yang paling menguntungkan.

Melansir Bloomberg, Kamis (9/11/2023), SoftBank melaporkan kerugian bersih 931,1 miliar yen atau US$6,2 miliar (Rp97,07 triliun dengan kurs Rp15,657/US$) pada kuartal yang berakhir September 2023. Kerugian ini berbanding terbalik dari laba US$3,0 triliun setahun sebelumnya ketika menjual sebagian besar saham raksasa e-commerce China Alibaba.

Para analis rata-rata memperkirakan Softbank mencatat laba bersih 203,4 miliar yen pada kuartal terakhir.

WeWork, perusahaan rintisan (startup) co-working space yang pernah menghasilkan valuasi sebesar $47 miliar, mengajukan perlindungan kebangkrutan di Amerika Serikat pada hari Senin. Softbank mencatat kerugian sebesar 234,4 miliar yen terkait eksposur WeWork pada paruh pertama tahun ini.

Chief Financial Officer Softbank Yoshimitsu Goto mengatakan kebangkrutan WeWork merupakan hal yang sangat memalukan. Perusahaan juga perlu mempelajari apa yang salah untuk membantu aktivitas investasi di masa depan.

Namun, ia juga menyuarakan nada optimis dengan mengatakan bahwa SoftBank telah mencapai titik terendah dan membuat kemajuan menuju profitabilitas.

Sementara itu, anak usaha investasi Softbank, Vision Fund, melaporkan kerugian SoftBank Group Corp. mencapai 258,9 miliar yen Jepang atau setara dengan US$1,7 miliar hingga akhir September 2023, setelah menghapus saham dan waran WeWork yang dipegang oleh Vision Fund, menjelang pengajuan kebangkrutan perusahaan tersebut pada minggu ini. 

Penurunan valuasi pada perusahaan-perusahaan portofolio seperti Sensetime Group Inc, AutoStore Holdings Ltd. dan Symbotic LLC. semakin memberikan tekanan.

Meski kerugian tersebut lebih kecil dari kerugian 1,02 triliun yen setahun yang lalu, hal ini menimbulkan keraguan atas klaim SoftBank bahwa masa-masa terburuk telah berakhir untuk Vision Fund, yang menyalurkan lebih dari US$140 miliar ke ratusan start-up yang merugi di seluruh dunia. 

"Sulit untuk bersikap optimis, karena ada sedikit ketidakpastian tentang bagaimana perkembangan ke depan dalam waktu dekat," kata analis senior di Iwai Cosmo Securities Co Tomoaki Kawasaki, dilansir melalui Bloomberg, Kamis (9/11/2023).

"Namun, perhatian saat ini tertuju pada bagaimana dan apakah investasi SoftBank di perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan AI akan meningkatkan nilai pemegang saham dan nilai aset bersih,” katanya.

SoftBank pun mencoba untuk mendapatkan kembali pijakannya setelah unit Vision Fund-nya kehilangan US$53 miliar dalam dua tahun terakhir karena kesalahan startup. 

Di sisi lain, penawaran umum perdana (IPO) unit chip Arm Holdings Plc senilai US$4,9 miliar telah memberi SoftBank modal untuk mengejar kesepakatan. 

Pendiri Softbank Masayoshi Son telah membuat sejumlah pertaruhan tahun ini pada teknologi autonomous atau otonom, terutama di bidang transportasi dan logistik. 

Investasi tersebut termasuk investasi di startup truk otonom Stack AV, usaha patungan pergudangan yang menggunakan AI dengan Symbotic Inc. dan investasi lanjutan di perusahaan portofolio Vision Fund dan pembuat perangkat lunak navigasi Mapbox Inc.

"Ada risiko bahwa FOMO pada AI generatif mendorong narasi," kata analis Astris Advisory Kirk Boodry, dalam sebuah catatan kepada para investor.

"Jelas jika SoftBank tertarik pada sesuatu, maka SoftBank akan melakukan investasi tersebut, meninggalkan diskusi tentang pagar pembatas dan/atau pendekatan yang lebih konservatif secara akademis."

Untuk diketahui, ketika SoftBank menginvestasikan miliaran dolar di perusahaan rintisan yang tidak menguntungkan mulai tahun 2017, hal ini meningkatkan valuasi di seluruh dunia sebelum mereka tertekan oleh tindakan keras teknologi China mulai tahun 2020 dan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS tahun lalu. 

Perusahaan ini menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mencatatkan kerugian sembari membatasi investasi baru. 

Pada akhir September, SoftBank Group memiliki sekitar 110 perusahaan portofolio, termasuk Alibaba, T-Mobile US Inc. dan Deutsche Telekom AG.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper