Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Australia Wanti-wanti Dampak Jika Ekonomi China Alami Perlambatan yang Lebih Tajam

Regulator Australia mengatakan dampak dari memburuknya situasi ekonomi di China terutama akan dirasakan di Australia.
Ilustrasi ekonomi China./Bloomberg
Ilustrasi ekonomi China./Bloomberg

Bisnis.comJAKARTA - Regulator Australia dalam pernyataan kuartalannya mengatakan bahwa dampak dari memburuknya situasi ekonomi di China terutama akan dirasakan di Australia melalui perdagangan yang melemah dan berkurangnya selera risiko di pasar keuangan. 

Dapat diketahui bahwa China adalah pembeli terbesar barang-barang Australia, meliputi bijih besi, batu bara dan produk makanan. Angin segar dari harga komoditas yang tinggi juga membantu Canberra melaporkan surplus anggaran pertamanya dalam 15 tahun. 

Nantinya jika permintaan China melemah, maka akan menurunkan harga-harga dan mengurangi surplus perdagangan Australia, atau bahkan menjadi defisit. 

"Perlambatan yang tajam di China, jika terjadi, akan utamanya berdampak pada Australia melalui saluran perdagangan dan peningkatan niat risiko di pasar keuangan global," kata Dewan Regulator Keuangan (CFR), seperti yang dikutip dari Bloomberg, Senin (25/9).

CFR, yang dipimpin oleh gubernur bank sentral (Reserve Bank of Australia/RBA), juga mengatakan bahwa rumah tangga dan perusahaan Australia telah cukup tahan dengan kenaikan suku bunga dan inflasi sebesar 4 poin persentase walaupun dampaknya tidak merata. 

CFR juga mengutarakan bahwa jumlah peminjam yang kesulitan membayar pinjaman hipotek mulai meningkat, namun masih dalam tingkat yang rendah. 

"Prospek ketenagakerjaan tetap menjadi faktor paling penting dalam ketahanan rumah tangga,” jelasnya. 

RBA sendiri juga menggambarkan pasar tenaga kerja Australia ketat dengan tingkat pengangguran berkisar antara 3,4-3,7 persen sejak Juni 2022, meskipun terdapat kenaikan suku bunga. 

Sebagai catatan, empat anggota CFR sendiri adalah Australian Prudential Regulation Authority (APRA), Australian Securities and Investments Commission (ASIC), Departemen Keuangan Australia, dan RBA.

Sebelumnya, mengutip Reuters pada Senin (25/9) Liu Shijin, penasihat dan anggota komite kebijakan moneter Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) menyarankan bahwa China seharusnya mengejar reformasi struktural seperti mendorong para pengusaha, dibandingkan bergantung pada kebijakan makroekonomi untuk menghidupkan kembali pertumbuhan. 

Liu juga menuturkan bahwa ruang lingkup Beijing untuk mengendurkan kebijakan moneter dibatasi oleh perbedaan tingkat suku bunga yang semakin melebar dengan Amerika Serikat (AS). 

"Jika China terus fokus pada kebijakan makro dalam upaya untuk menstabilkan pertumbuhan, akan ada lebih banyak efek samping," ucap Liu, wakil presiden Pusat Riset Pembangunan Dewan Negara.

Sebagaimana diketahui, pemulihan China pasca-Covid telah kehilangan momentumnya. Hal ini terjadi akibat konsumsi yang melemah, penurunan ekspor, krisis utang properti yang semakin dalam, dan ekonomi yang berjuang meskipun sejumlah langkah moneter dan fiskal telah diambil untuk meningkatkan kepercayaan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper