Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Ramal Ekonomi Global 2023 Tumbuh 2,6 Persen, Gara-gara China

Gubernur BI meramal ekonomi global 2023 akan tumbuh 2,6 persen imbas dari pembukaan ekonomi China kepada dunia.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan pemaparan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (19/1/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan pemaparan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (19/1/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2023 dapat mencapai 2,6 persen secara tahunan. Hal ini sejalan dengan dampak positif pembukaan ekonomi China dan penurunan disrupsi suplai global.

Gubernur BI Perry Warjiyo juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa lebih baik dari proyeksi sebelumnya, serta diikuti dengan turunnya risiko resesi.

“Perbaikan prospek ekonomi global tersebut diperkirakan menaikkan harga komoditas non-energi di tengah harga minyak yang menurun akibat berkurangnya disrupsi suplai global,” ujarnya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (16/3/2023).

Menurutnya, perkembangan positif ekonomi global serta ekspektasi kenaikan upah karena keketatan pasar tenaga kerja di Amerika Serikat dan Eropa mengakibatkan proses penurunan inflasi global berjalan lebih lambat.

Hal ini pun mendorong kebijakan moneter di negara maju semakin ketat dan lebih lama. Pengetatan kebijakan moneter, khususnya di negara maju, ditambah munculnya kasus penutupan tiga bank di AS, sehingga meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.

Selain itu, penutupan tiga bank tersebut juga berisiko menahan aliran modal ke negara berkembang dan meningkatkan tekanan pelemahan nilai tukar di berbagai negara.

“Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah guna memitigasi ketidakpastian pasar keuangan global tersebut, termasuk dampak rambatan penutupan bank di AS terhadap pasar keuangan domestik dan nilai tukar rupiah,” tuturnya.

Di dalam negeri, Perry menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan ekspor.

Konsumsi rumah tangga juga diperkirakan semakin tangguh sejalan dengan meningkatnya mobilitas di seluruh wilayah, penjualan eceran dan membaiknya keyakinan konsumen.

“Investasi juga tumbuh kuat ditopang penyelesaian proyek strategis nasional dan peningkatan aliran masuk penanaman modal asing. Prospek permintaan domestik yang meningkat juga dipengaruhi oleh dampak positif lanjutan dari peningkatan ekspor,” pungkasnya,


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper